Sejak kecil, Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian beliau belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
3.2 Salah Satu Pendiri IPPNU
3.3 Memimpim Muslimat
3.4 Aktif di Politik
4. Karir-Karir
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Nyai Hj. Mahmudah Mawardi lahir pada tanggal 12 Februari 1912 M di Solo. Beliau merupakan putri pertama dari lima bersaudara, dari Kyai Masjhud, salah satu tokoh yang dianggap menjadi salah satu perintis berdirinya NU di Kota Solo.
Saudara-saudara beliau di antaranya Nyai Mahmudah, Nyai Mahwiyah, Nyai Mahsunah, Nyai Mahdumah, dan Nyai Mahmulah. Kelima putri ini lahir dari istri pertama Kyai Masjhud, setelah istri pertamanya wafat, Kyai Masjhud kemudian memperistri Nyai Syuaibah, yang kemudian melahirkan salah satu tokoh pendiri IPNU dan PMII, KH. Mustahal Ahmad.
1.2 Riwayat Keluarga
Selama kurun waktu 1933-1945 M, saat Nyai Hj. Mahmudah Mawardi menjadi Kepala Sekolah Madrasah Muallimat NDM. Pada kisaran tahun itu pula, Nyai Mahmudah menikah dengan salah seorang tokoh pergerakan PSII Solo, KH. A. Mawardi. Nama inilah yang tersemat di belakang namanya hingga akhir hayat.
Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri yang kelak juga menjadi tokoh besar. Di antaranya KH. Chalid Mawardi (Ketua PP GP Ansor 1980-1985, mantan Dubes RI di Syiria dan Lebanon), Nyai Hj. Farida Purnomo (Ketua PP IPPNU 1963-1966) dan Nyai Hj. Lathifah Hasyim (Dewan Penasihat PP Muslimat NU 2011-2016).
1.3 Wafat
Begitu banyak jasa yang telah Nyai Hj. Mahmudah Mawardi ukir, termasuk saat beliau ikut aktif membantu perjuangan bangsa Indonesia melalui Barisan Hizbullah di Surakarta (12 Oktober 1945–19 September 1947). Tugasnya kala itu, berada di garis belakang untuk membuka dapur umum, mengumpulkan obat-obatan, lauk-pauk dan menjadi kurir. Atas jasanya itu, beliau mendapat tanda penghargaan Bintang Gerilya.
Menjelang wafatnya, ketika sakit, banyak tokoh NU yang menjenguknya, KH. Ali Maksum dan Gus Dur termasuk di antaranya. Nyai Hj. Mahmudah Mawardi akhirnya wafat pada hari Rabu Wage, 26 Rabiul Awal 1408 H/18 November 1987 M pukul 14.00 di Keprabon Wetan Solo dalam usia 78 tahun, jenazahnya dimakamkan di Astana Pulo Laweyan Solo.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil, Nyai Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian beliau belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923.
Setelah itu, beliau melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyyah Sunniyah selama 3 tahun. Sunniyah merupakan sebuah nama langgar dan Madrasah di daerah Keprabon Timur Solo.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

