Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ali Maksum, Pengasuh Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ali Maksum, Pengasuh Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta

1915 – 1989 M · 120.030 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Ali Maksum adalah putra pertama dari hasil perkawinan KH Ma’shum bin KH. Ahmad Abdul Karim dengan Ny. Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem, yang lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di desa Soditan Lasem kabupaten Rembang

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1        Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1     Lahir
1.2     Riwayat Keluarga
1.3     Wafat

2        Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1     Pendidikan
2.2     Guru-Guru

3        Penerus
3.1     Murid-Murid

4.       Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1     Menjadi Pengasuh Pesantren
4.2     Kiprah di Nahdlatul Ulama

5.      Jasa-jasa
6.      Karya-Karya
7.      Teladan
8.      Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Ali Maksum lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan KH. Ma’shum bin KH. Ahmad Abdul Karim dengan Nyai. Hj. Nuriyah binti KH. Muhammad Zein Lasem.

Keluarga KH. Ali Maksum, sejak dari zaman kakek-kakeknya dahulu hingga sekarang adalah keluarga besar yang kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari nilai-nilai kepesantrenan. Ayahnya KH. Ali Maksum yang terkenal dengan panggilan Mbah Ma’shum, merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Soditan, Lasem, Rembang.

1.2 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1938, KH. Ali Maksum menikah dengan Nyai R. Hasyimah, putri dari KH. M. Munawwir. Beberapa hari setelah pernikahannya, seseorang bernama H. Junaid dari Kauman Yogyakarta melalui KH. Maksum menawarkan tiket gratis kepada KH. Ali Maksum untuk beribadah Haji. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 8 orang putra-putri di antaranya:
1. Adib (wafat masih kecil),
2. KH. Atabik Ali,
3. H. Jirjis Ali,
4. Nyai Hj. Siti Hanifah Ali,
5. Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali,
6. Nafi’ah (wafat masih kecil),
7. M. Rifqi Ali.
8. Hj. Ida Rufaidah Ali. 

1.3 Wafat
Ketika dilangsungkan Muktamar NU ke-28 di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, sebenarnya KH. Ali Maksum sudah sakit sejak beberapa saat sebelumnya. Meskipun demikian, sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab atas sukses dan tidaknya Muktamar, beliau masih sempat mengkomando panitia pelaksana yang sebagian besar adalah santrinya menggunakan alat mic speaker dari kamarnya.

Ketika Presiden Soeharto dan beberapa menteri serta para kyai peserta Muktamar menjenguknya, KH. Ali Maksum juga masih sempat menerima mereka dengan berbaring di kamarnya. Walhasil, Muktamar dapat berjalan dengan sukses, dengan mengantarkan kembali KH. Ahmad Shiddiq sebagai Rais ‘Aam dan KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode yang kedua kalinya.

Seminggu setelah Muktamar, KH. Ali Maksum jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit DR. Sardjito selama seminggu, kemudian wafat ketika adzan Maghrib berkumandang pada pukul 17.55 WIB di hari Kamis, tanggal 7 Desember 1989 atau 15 Jumadil Awal 1410, dalam usia 74 tahun.

Jenazahnya dilepas dari Masjid Pesantren Krapyak setelah shalat Jum’at dan dikebumikan berdampin

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+