Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Asmoeni Iskandar, Pendiri PERPENO (Persatoean Peladjar Nahdlatoel Oelama)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Asmoeni Iskandar, Pendiri PERPENO (Persatoean Peladjar Nahdlatoel Oelama)

1933 – 2004 M · 9.902 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Asmoeni Iskandar lahir pada tanggal 5 Agustus 1933 di Dusun Pucanganom, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Iskandar Munsyarif dan Hj. Aminatun.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan PERPENO
3.2  Mendirikan Madrasah
3.3  Peran di Nahdlatul Ulama
3.4  Menjadi Kepada Desa

4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Asmoeni Iskandar lahir pada tanggal 5 Agustus 1933 di Dusun Pucanganom, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Iskandar Munsyarif dan Hj. Aminatun.

1.2 Wafat
KH. Asmoeni Iskandar wafat di usia 72 tahun pada hari Kamis 9 Desember 2004 pukul 15.00 WIB. Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Dusun Mantren, Desa Tengger Kidul, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Masa remaja KH. Asmoeni Iskandar diisi dengan menempuh pendidikan formal Sekolah Rakyat. Kemudian dilanjutkan dengan Pendidikan Guru Agama (PGA) dan juga menjadi santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri yang saat itu masih diasuh oleh KH. Abdul Karim.

2.2 Guru
KH. Abdul Karim.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah

3.1 Mendirikan PERPENO
Saat awal mendirikan PERPENO (Persatoean Peladjar Nahdlatoel Oelama)pada tanggal 13 Juni 1953, KH. Asmoeni Iskandar masih aktif sebagai santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Liboyo, Kediri.

Tidak sampai setahun, PERPENO yang dirintisnya kemudian ikut melebur ke dalam IPNU, seiring dengan diresmikannya pendirian IPNU. KH. Asmoeni pun kemudian ikut menjadi bagian dari pertemuan Konferensi Panca Daerah (Konferensi Segi Lima) pada 30 April-1 Mei 1954 M.

Pertemuan yang diikuti perwakilan dari lima daerah, yakni Yogyakarta, Solo, Semarang, Jombang, dan Kediri ini sebagai tindak lanjut setelah disahkannya pendirian IPNU tanggal 24 Februari 1954 M pada Konferensi Nahdlatul Ulama Ma’arif di Semarang.

Selain KH. Asmoeni Iskandar, beberapa tokoh perwakilan yang hadir dan kemudian dikenal sebagai Tokoh Angkatan ’54 yaitu KH. Moh. Tolchah Mansoer, KH. M. Djamhari AS, KH. Ach. Alfatih AR (Yogyakarta), KH. M. Shufyan Cholil, KH. Sochib Bisri (Jombang), KH. Mustahal Ahmad (Solo) dan KH. Abdul Ghony Farida (Semarang), KH. Abdul Chaq, dan nama-nama tokoh lainnya.

3.2 Mendirikan Madrasah
Usai berjuang di IPNU, KH. Asmoeni Iskandar tetap meneruskan perjuangannya di dunia pendidikan dan dakwah. Pada tahun 1961 M beliau mendirikan Madrasah Diniyah Salafiyah Syafi’yah, yang sekarang dikenal menjadi Madrasah Ibtida’iyah “Diponegoro” Pucangan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+