Ibnu Abi Hatim ulama Iran ahli fiqih ahli tafsir islam muslim
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Laduni.ID Jakarta – Nama lengkap Abu Muhammad Abdurrahman bin Hafidz Abu Hatim Muhammad bin Idris bin al-Mudzir at-Tamimi al-Hanzhali ar-Razi. Dia merupakan anak dari Abu Hatim ar-Razi. Dia merupakan ulama yang menguasai berbgai bidang ilmu, terutama fikih dan hadis. Sehingga diberi gelar Sayikhul Islam, al-Imam dan al-Hafidz.
Contents
Baca Juga : Biografi Ibnu Mundzir
Riwayat Hidup
Lahir
Lahir di lahir di Darb Hanzalah, Rayy, Persia pada tahun 240 H/854 M.
Wafat
Wafat di kota Rayy pada bulan Muharam tahun 327 H/938 M.
Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Perjalanan Mencari Ilmu
Perjalanan ilmiah pertama Ibnu Abi Hatim dimulai pada tahun 255 H, ketika ia baru menginjak usia 15 tahun. Perjalanan pertama ini dilakukan bersama ayahnya setelah menunaikan ibadah haji. Bersama ayahnya, ia mengunjungi kota Bagdad, Samara, Damaskus, Wasith dan Kufah untuk mengumpulkan hadis dan berguru pada ulama-ulama hadis yang berhasil mereka temui di kota-kota tersebut.
Di Bagdad, sebagai misal, Ibnu Abi Hatim berserta ayahnya bertemu dengan Abdullah (w. 290 H), salah seorang dari putra Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) yang memiliki peran dalam mempertahankan dan menyosialisasikan ajaran dan pemikiran ayahnya. Ibnu Abi Hatim belajar tentang opini-opini Ahmad bin Hanbal perihal ‘ilal hadis dan jawaban-jawaban Ahmad bin Hanbal perihal berbagai persoalan keagamaan.
Selain itu, di kota “seribu satu malam” ini Ibnu Abi Hatim dan ayahnya juga berguru kepada ‘Abbas bin Muhammad ad-Duri (w. 271 H) dan ‘Ustman bin Sa’id ad-Darimi (w. 282 H), dimana keduanya adalah murid dari ulama hadis terkemuka di Bagdad, yaitu Yahya bin Ma’in (w. 233 H). Murid Yahya bin Ma’in yang disebut terakhir dikenal sebagai salah seorang tokoh di Bagdad yang amat gencar menyerang paham Mu’tazilah. Setelah itu, Ibnu Abi Hatim dan ayahnya kembali ke Rayy dan berguru kepada ulama yang ada di kota kelahirannya tersebut.
Pada tahun 262 H/875 M, Ibnu Abi Hatim melakukan perjalanan ilmiah lagi. Perjalanan kedua ini dilakukannya tanpa ditemani sang ayah karena ia telah dewasa dan telah memiliki pengetahuan di bidang keagamaan, termasuk hadis. Tujuannya adalah mengunjungi Mesir dan Syria. Di Mesir ia mengunjungi beberapa ulama terkemuka di Fustat dan Aleksandria. Salah seorang ulama yang didatangi Ibnu Abi Hatim adalah ar-Rabi’ bin Sulaiman, salah seorang ulama garda depan yang tinggal di Fustat dan penyebar pandangan-pandangan Imam Syafi’i. Guru Ibnu Abi Hatim yang bernama Abu Zur’ah juga pernah belajar kepada ar-Rabi’ bin Sulaiman untuk menyalin karya-karya Imam Syafi’i yang dimiliki ar-Rabi’.
Selain ar-Rabi’, di Mesir Ibnu Abi Hatim juga berguru kepada dua orang kakak beradik, yaitu ahli fikih Muhammad bin Abdullah bin al-Haka
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

