Biografi KH. Badri Masduqi Ulama Nahdlatul Ulama Probolinggo Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
3 Penerus
3.1 Anak-Anak
3.2 Murid-Murid
4 Jasa, Organisasi, dan Karier
4.1 Melawan PKI
4.2 Riwayat Organisasi
4.3 Karier
5 Referensi
6 Chart Silsilah Sana
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Badri Masduqi lahir di Desa Parenduan Sumenep Madura, pada tanggal 1 Juni 1942, dari seorang ayah KH. Mashduqi dan Nyai Musyarroh.
Kyai Badri tumbuh besar di bawah asuhan tunggal sang ibu. Selain didikan dari ibundanya, ia mendapat pengajaran dan asupan ilmu dari sang kakek, Kyai Miftahul Arifin, serta sang paman, Kyai Sufyan, yang berasal dari Situbondo. Dari sang paman, ia mendapat pelajaran tauhid, fiqih, dan mengaji kitab Ta'llim Al-Muta'allim. Kyai Badri kecil belajar agama pada malam hari, sedangkan pada siang harinya ia mengikuti pendidikan formal di sekolah rakyat pada tahun 1950.
1.2 Wafat
Beliau wafat pada tanggal 30 November 2002 di Kraksaan Probolinggo.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Badri Masduqi tumbuh besar di bawah asuhan tunggal sang ibu. Selain didikan dari ibundanya, beliau mendapat pengajaran dan asupan ilmu dari sang kakek, Kyai Miftahul Arifin, serta sang paman, Kyai Sufyan, yang berasal dari Situbondo.
Dari sang paman, beliau mendapat pelajaran tauhid, fiqih, dan mengaji kitab Ta'llim Al-Muta'allim. KH. Badri Masduqi kecil belajar agama pada malam hari, sedangkan pada siang harinya beliau mengikuti pendidikan formal di sekolah rakyat pada 1950.
Di bangku sekolah dasar ini beliau sudah menampakkan kecerdasannya. "Berkat kecerdasannya, beliau dikenal memiliki ilmu laduni," kata teman sejawat beliau, Ali Maki Hasan.
Pada 1950-an, KH. Badri Masduqi remaja melanjutkan mondok di Pesantren Zainul Hasan Genggong. Tak puas menimba ilmu, beliau kembali nyantri di sejumlah pesantren, yaitu Pesantren Bata-Bata Pamekasan Madura sampai pada 1956, Pesantren Sidogiri sampai 1959, dan Pesantren Nurul Jadid Paiton (1959-1965).
Di Bata-Bata dan Sidogiri inilah KH. Badri Masduqi sering berpuasa dan aktif berdiskusi sesuai usia dan ilmunya yang terus bertambah. Di pesantren Bata-Bata, KH. Badri Masduqi hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik) dalam waktu cepat. KH. Badri Masduqi dikenal cerdas dan dikagumi tidak hanya oleh kalangan santri. Bahkan gurunya, KH. Ahmad Djauhir, mengakui kecerdasannya melebihi santri-santri lain.
Kelebihan KH. Badri Masduqi semakin menonjol saat nyantri di Pe
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

