KH. Mohammad Thoha ‘Alawy Al-Hafidz Ulama Nahdlatul Ulama Banyumas Jawa Tengah
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Murid-murid Beliau
4 Organisasi dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mohammad Thoha lahir di Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah 1953. seperti umumnya anak-anak desa waktu itu, beliau pun belajar di bangku SD (Sekolah Dasar, dulu disebut sekolah rakyat) pada siang hari, dan belajar di Madrasah Diniyyah pada sore hari. Karena terbentur kesulitan ekonomi, saya tidak sempat mengikuti ujian akhir.
1.2 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1981 beliau pulang untuk menikah, tapi dua bulan kemudian, beliau dan istrinya kembali ke Makkah. Di sana anak pertama dan kedua lahir. Beberapa tahun kemudian, 1986, beliau bersama keluarga kecilnya pulang dan menetap di Purwokerto.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Mohammad Thoha, sosok yang cinta dengan ilmu. Bagaimana tidak, sejak kecil sudah tertarik nyantri. Sejak kecil sudah bisa iri dengan kebaikan. Iri yang unik, tapi sekaligus iri yang baik. Kesadaran yang tumbuh dengan sendirinya tentang kecintaan terhadap ilmu, sungguh teladan yang layak ditanam bagi generasi sekarang.
Dikisahkan, saat kecil, beliau iri dengan teman di kampungnya yang sudah nyantri. Saat usia SD, beliau waktu kecil nekad menuju stasiun Semarang, untuk perjalanan menuju Surabaya. Dalam benak dan pikiran KH. Mohammad Thoha , adalah Pesantren Tebuireng, Jombang dan Pesantren Tremas, Pacitan.
Tentu, sebagaimana kelakuan anak kecil, sama sekali tidak berpikiran soal bekal. Tidak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian saat perjalanan. Dalam benak pikirannya, hanya Pesantren dambaan, Pesantren tujuan. Ini menjadi bukti nyata katresnan KH. Mohammad Thoha terhadap keilmuan.
Namun, sesampainya di Surabaya, beliua kebingungan. Tekad yang membara, kalah dengan bekal dan pengalaman yang dimilikinya. Bagaimanapun, bepergian butuh bekal, juga pengalaman. Saat itu, praktis, KH. Mohammad Thoha belum memiliki keduanya. Akhirnya, mengurungkan niatnya dan kembali menyusuri jalur kereta menuju Semarang.
Tekad kuat mondok KH. Mohammad Thoha akhirnya diketahui oleh Bapaknya, Alm. Jahudi bin Badi. Akhirnya tekad mencari ilmu, mendalami agama di Pesantren terwujud saat itu. KH. Mohammad Thoha begitu senang. Oleh Almar
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

