KH. Asrori Ahmad lahir di Wonosari, Magelang pada 2 Ramadhan 1343 (1923). Beliau adalah putra sulung dari pasangan H Ahmad dan Nyai Aminah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-guru Beliau
2.3 Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
3.2 Murid-murid Beliau
4 Karier dan Karya Beliau
4.1 Karier Beliau
4.2 Karya Beliau
5 Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Asrori Ahmad lahir di Wonosari, Magelang pada 2 Ramadhan 1343 (1923). Beliau adalah putra sulung dari pasangan H Ahmad dan Nyai Aminah.
1.2 Wafat
Beliau wafat pada Senin Pahing 23 Shafar 1415 (1 Agustus 1994)
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Asrori kecil mengaji Alquran dan tata cara ibadah harian kepada sang ayah. Semasa kanak-kanak ia sering dibonceng sang ayah dengan sepeda onthel: bersilaturahmi ke sanak famili, kerabat, dan sowan ke sejumlah kiai. Semasa usia 11 tahun, setamat kelas lima Sekolah Rakyat (SR; kini SD), ia bertekad belajar ilmu agama kepada ahlinya. Maka, sang ayah pun segera mengirimnya ke pondok pesantren.
Pertama kali remaja Asrori nyantri adalah di Pesantren Salam, Salamkanci, Bandongan (Magelang). Di pesantren asuhan Kiai Raden Asnawi ini ia nyantri selama tiga tahun (1932-1935). Di pesantren ini pula pemuda Asrori dikhitan. Selepas dari Pesantren Salam, Asrori muda melanjutkan ke Pesantren Tremas (Pacitan) di bawah asuhan KH. Hamid Dimyati. Dua tahun lamanya ia menimba ilmu di Tremas (1936-1937).
Selanjutnya, pemuda Asrori melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke Pesantren Al-Hidayat Lasem (Rembang), di bawah asuhan KH. Maksum. Lima tahun lamanya (1937-1942) ia bermukim di Pesantren Al-Hidayat Lasem. Tujuh tahun berselang, Kiai Asrori muda pun kembali nyantri di Lasem (1949-1953). Setelah nyantri di Lasem yang pertama, Asrori beberapa bulan lamanya sempat berguru kepada Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng (1942), KH. Dalhar di Watucongol (1943), dan Kiai Asy'ari di Damesan (1944-1947).
Semasa nyantri yang kedua kali di Lasem, Kiai Asrori muda acap kali bersilaturahmi ke beberapa ulama sepuh. Dua di antara ulama tersebut adalah KH. Bisri Sansuri (Denanyar Jombang) dan KH. Bisri Mustofa (Rembang). KH. Bisri Sansuri bahkan memberinya ijazah DOA, baik untuk diamalkan sendiri maupun diijazahkan kepada orang lain. Adapun dari KH. Bisri Mustofa, Kiai Asrori mendapat arahan sekaligus suntikan semangat untuk terus menulis.
2.2 Guru-guru Beliau
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

