KH. Idris beliau adalah ulama besar dari Brebes dan pendiri pesantren Yanbu'ul Ulum Lumpur Brebes
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-guru Beliau
2.3 Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Murid-murid Beliau
4 Karier
4.1 Karier Beliau
5 Putranya Menjadi Juru Tulis Syekh Mahfudz Termas
6 Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Idris lahir di sebuah dusun kecil yang terletak di sebelah utara kecamatan Losari Cirebon, tepatnya di Desa Kalirahayu. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Kiai Ahmad Sholeh dan Nyai Musyarofah. Tidak diketahui tahun berapa ia lahir, namun dapat diketahui bahwa beliau satu zaman dengan Syekh Mahfudz Termas.
Kakeknya dari pihak ibu, yaitu Kyai Nasim, adalah seorang tokoh alim yang dihormati di Desa Kalirahayu. Sebagaimana anak kiai pada umumnya, KH. Idris mendapatkan pendidikan keagamaan dari orang tuanya. Diajarkanlah KH. Idris kecil oleh ayahnya ilmu tauhid, fiqih, dan akhlak
1.2 Riwayat Keluarga
KH Idris melepas lajangnya dengan menikahi seorang wanita bernama Shoimah beliau adalah seorang hafidzul Qur’an dan dikaruniai beberapa anak.
1.3 Wafat
Pada tahun 1915, KH. Idris wafat. Atas pesannya, beliau dimakamkan di sebelah utara Dusun Lumpur, di bawah kedung yang ada di tengah-tengah sungai. Saat ini, kedung tersebut telah menjadi pemakaman umum masyarakat Desa Limbangan. Ziarah Makam KH. Idris Lumpur, Muasis Pesantren Yanbu'ul Ulum Brebes.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Setelah dirasa cukup belajar ilmu agama kepada ayahnya, KH. Idris muda melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Tanah Suci. Dengan semangat yang tinggi, beliau berjalan kaki dari Losari menuju pelabuhan Cirebon untuk selanjutnya menuju pelabuhan Jeddah.
Di tengah perjalanan, tepatnya di desa Mundu, KH. Idris singgah sebentar di Mushala untuk melaksanakan shalat dan istirahat. Beliau hendak melanjutkan perjalanannya kembali, namun ketika hendak melangkah, terdengar suara perempuan yang sedang membaca al-Qur’an dengan bacaan yang sangat fasih, baik tajwid maupun makhrojnya, ditambah kemerduan suaranya.
KH. Idris kagum atas bacaannya tersebut, hingga ia duduk kembali untuk mendengarkan bacaan perempuan itu. Di tengah kekaguman tersebut, datanglah seorang laki-laki yang menghampirinya.Setelah bertanya-tanya, laki-laki itu memperkenalkan diri
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

