Beliau lahir pada tahun 1940 dari pasangan KH. Umar Abdul Hamid dan Nyai Hj. Khomsiyah Mirghoni dari Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu. .
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-guru Beliau
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
3.2 Murid-murid Beliau
4 Organisasi, dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
5 Chart Silsilah Sanad
5.1 Chart Silsilah Sanad
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Beliau lahir pada tahun 1940 dari pasangan KH. Umar Abdul Hamid dan Nyai Hj. Khomsiyah Mirghoni dari Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu. .
1.2 Riwayat Keluarga
Usai menamatkan pendidikan di pesantren, KH. Muhammad Aqib Umar kemudian menikah dengan Nyai Rusdiyah. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniani tujuh putra dan putri, yakni KH. Ahmad Nur Fathoni, Kiai Ahmad Ukasyah, Ummil Huda, M. Laili Rosyad, Laili Rosyid, Mubarokatul Izza dan M. Hasan Munadi. Nyai Rusdiyah berpulang ke rahmatullah pada 12 Februari 1989. KH Muhammad Aqib Umar kemudian menikah lagi dengan Nyai Hj. Alfiyah dan tidak dikaruniai putra.
1.3 Wafat
Beliau wafat pada 30 April 2003
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Selain dari ayah beliau, pendidikan keagamaan KH. Muhammad Aqib Umar ditempuh dengan nyantri di berbagai pondok pesantren, diantaranya Pondok Pesantren Watucongol Muntilan Magelang, Ndresmo Surabaya, dan Mranggen Demak. Di Watucongol, beliau seangkatan dengan KH. Abdul Basith Kaliwungu, KH. Hamim Djazuli (Gus Miek) Ploso, KH. Nurul Huda Djazuli, dan KH. Zainuddin Djazuli Ploso Jawa Timur.
2.2 Guru-guru Beliau
Guru-guru beliau saat menuntut ilmu, di antaranya:
2.3 Mengasuh Pesantren
Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Bani Umar Al Karim Kaliwungu. Perkembangan pondok pesantren juga tak luput dari perhatian beliau. Setelah pulang haji yang pertama, beliau merenovasi pondok pesantren Bani Umar Al Karim pada tahun 1992 karena jumlah santri yang semakin bertambah.
Setelah pulang haji yang kedua, beliau mulai membangun pondok pesantren Bani Umar Al Karim Putri. Tambahan nama Al Karim diambil dari nama pendiri pondok yang pertama pada tahun 1864 yakni KH Abdul Karim Kaliwungu. Beliau juga sangat memperhatikan para santri, bahkan beli
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

