Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Pesantren · Bustanu Usysyaqil Qur'an Demak
✓ Terverifikasi Tim Riset

Bustanu Usysyaqil Qur'an Demak

90.787 kali dibaca · Pesantren

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Begitu pula yang terjadi di pondok pesantren Bustanu ‘Usysyaqil Qur’an (BUQ). Pondok ini didirikan oleh seorang ulama’ yang memiliki sejarah dan nasab yang cemerlang. Beliau adalah KH. R. Muhammad, putra dari KH. Mahfuzh At Tarmasi

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

PROFIL

Pondok pesantren Bustanu Usysyaqil Qur'an didirikan oleh seorang ulama’ yang memiliki sejarah dan nasab yang cemerlang. Beliau adalah KH. R. Muhammad, putra dari KH. Mahfudz At-Tarmasi, seorang ulama’ Jawa yang aktif dalam percaturan pemikiran ulama-ulama Timur Tengah pada abad ke-18 M.

Kedalaman dan keluasan ilmu KH. Mahfudz membuat ia di percaya untuk menjadi mufti di Makkah dan mengajar di Masjidil Haram. Keagungannya tampak memberikan pengaruh tersendiri bagi putranya. Apalagi sejak kecil, R. Muhammad, sang putra sudah terbiasa mengikuti ayahnya ketika mengajar di Masjidil Haram serta melakukan thawâf di Baitullâh. Hal itu ternyata membangkitkan cintanya terhadap ilmu-ilmu agama.

Suatu ketika datang seorang santri yang hendak menimba ilmu kepada KH. Mahfudz. Orang itu adalah KH. Munawir yang kelak menjadi pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Saat itu KH. Munawir sedang menunaikan ibadah haji bersama istrinya. Begitu menyadari bahwa santri tersebut mampu mengkhatamkan al-Qur’an dengan sekali thawaf, KH. Mahfudz berpesan pada putranya agar mampu menirunya.

Pada saat R. Muhammad berusia 9 tahun, KH. Mahfudz berpulang ke Rahmatullah, sehingga R. Muhammad menjadi yatim piatu. Sementara Muslimah, ibunya yang berasal dari Demak, telah wafat terlebih dahulu dan dimakamkan di Demak. Sedangkan KH. Mahfudz dimakamkan di Makkah. Menurut keterangan yang disampaikan Syekh Thohir kepada KH. Muhdi Taslim (adik ipar R. Muhammad), ketika menunaikan ibadah haji tahun 1963 M, jasad KH. Mahfudz masih utuh. Hal itu diketahui ketika makam tersebut digali untuk dipindahkan ke tempat lain, akhirnya, menurut Syekh Thohir, pemindahan itu tidak jadi dilakukan karena tidak mungkin memindahkan makam orang yang selalu dijaga oleh Allah.

Dengan meniggalnya kedua orang tua, R. Muhammad akhirnya dibawa boyong ke Tanah Air, oleh KH. Munawwir, seusai melaksanakan ibadah haji dan menimba ilmu kepada KH. Mahfudz meskipun tidak lama. Hal itu dilakukan oleh KH. Munawwir karena beliau telah diwasiati oleh KH. Mahfudz untuk mendidik anaknya di bidang hafalan Al Qur’an. Sesampai di Tanah Air, kemudian beliau diserahkan oleh KH. Munawwir kepada KH. Dimyati, kakak KH. Mahfudz, yang merupakan pengasuh Pondok Tremas saat itu, KH. Dimyati menyerahkan R. Muhammad kepada KH. Munawwir untuk dididik menghafal al-Qur’an.

Kemudian, R. Muhammad diambil KH. Munawwir sebagai anak angkat yang sangat disayangi, bahkan seakan melebihi kasih sayang terhadap putra-putranya sendiri. Selama kurang lebih 4 tahun, beliau belajar di Pondok Krapyak, Yogyakarta. Setelah menimba ilmu disana, beliau diserahkan kembali kepada sang paman, KH. Dimyati di Pondok Tremas.

Di Pondok tersebut, R. Muhammad diasuh dan diawasi langsung oleh KH. Dimyati dan dibantu oleh KH. Ali Ma’shum, putra KH. Ma’shum dari Lasem, yang menjadi menantu KH. Munawwir. Kemudian, setelah cukup banyak ilmu agama yang dikuasai, KH. Dimyati memerintahkannya untuk ber-tabarrukan kepada KH. Ma’shum Lasem.

Ketika usia R. Muhammad menginjak remaja, beliau sering berkunjung ke Demak untuk menyambung tali silaturrahmi dengan keluarga besar ibundanya. Pada masa itu pula, kurang lebih sekitar tahun 1920 M, di Demak hiduplah seorang ulama hâfidz al-Qur’an bernama kyai Ali Hafizh yang biasa di panggil Kyai Apil. Ia amat dikenal dan dihormati oleh masyarakat Demak.

Apalagi pada saat itu, ulama yang hafidz al-Qur’an memang masih sedikit sekali. Namun, pada sekitar tahun 1920 M itu juga, ia meninggal dunia. Seorang saudagar Demak, H. taslim, yang merupakan teman dekat Kyai Apil, sangat merasa kehilangan. Karena itulah, ia pun berkeinginan untuk mendapatkan seorang menantu hafizh yang dapat mengajarkan Al Qur’an kepada masyarakat Demak.

Tidak berlangsung lama, keinginan H. Taslim tersebut akhirnya terwujud. Te

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+