Atas keteguhan dan keistiqomahan beliau di bidang fiqih, KH. Saifuddin Amsir dianugerahi "Fiqih Award" bersama tokoh lainnya, seperti KH. Abdul Aziz Arbi dan KH. Ali Musthofa Ya'kub dalam bidang ilmu Al-Qur'an dan Hadis oleh penerbit buku Islam di Jakarta,
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Lembaga Pendidikan
4. Karya-Karya
5. Karir-Karir
6. Penghargaan
7. Teladan
8. Kisah-Kisah
9. Chart Silsilah Sanad
10. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Saifuddin Amsir lahir pada tanggal 31 Januari 1955, di Kampung Berlan, Matraman. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara, dari pasangan Bapak Amsir Naiman, seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya, Kebon Manggis, Matraman, dengan Ibu Nur’ain, seorang ibu rumah tangga yang secara penuh mengabdikan diri untuk mengurus keluarga.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Saifuddin Amsir menikah dengan Nyai Hj. Siti Mas’udah. Dari pernikahannya beliau dikaruniai empat orang putri, yaitu, Ustadzah Hj. Badrah Uyuni, M.A., Raichanatul Quddus, Kasyifatudduja, dan Hj. Robiah Al-Adawiyyah.
1.3 Wafat
KH. Saifuddin Amsir wafat di Rumah Sakit OMNI Rawamangun, Jakarta pada hari Kamis, 19 Juli 2018, sekitar pukul 01.41 WIB. Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Keluarga di Jakarta Timur.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil, beliau sudah diajari sifat-sifat yang menjadi teladan bagi dirinya kelak di kemudian hari. Dengan keras sang ayah mendidiknya untuk berperilaku lurus dan mandiri. Tidak ada kompromi bagi suatu pelanggaran yang telah ditetapkan ayahnya. Bersama sembilan orang saudaranya, beliau dibiasakan untuk menunaikan shalat secara berjamaah. Keinginan kuatnya dalam menimba ilmu-ilmu agama sudah terpatri kuat sedari kecil.
Menyadari bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga ulama dan juga bukan dari kalangan yang berada, Kyai Saifuddin kecil menyiasatinya untuk berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orangtuanya. Beliau berusaha menutupi biaya kebutuhan pendidikannya sendiri, bahkan sejak beliau masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sejak kecil, selain mengaji kepada kedua orangtuanya sendiri, KH. Saifuddin Amsir juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Washliyah. Di sela-sela waktunya, beliau mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak. Beliau juga senang membaca berbagai macam bacaan sejak masih kecil. Sewaktu duduk di bangku tsanawiyah, beliau mulai banyak berguru ke beberapa ulama di Jakarta.
Di antara ulama yang tercatat sebagai guru-gurunya adalah KH. Abdullah Syafi’i, Muallim Syafi’i Hadzami, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Atthas, dan Guru Hasan Murtoha. Kepada guru-gurunya tersebut, beliau mempelajari berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman.
Pada saat menimba ilmu kepada Habib Abdullah Syami, di antara kitab yang beliau khat
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

