Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mastur Asnawi Pendiri Pesantren al-Masturiyah Lamongan
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mastur Asnawi Pendiri Pesantren al-Masturiyah Lamongan

1895 – 1982 M · 4.033 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Mastur Asnawi atau yang akrab disapa Mbah Yai Mastur lahir pada 3 Juli 1895. Ayahnya merupakan seorang saudagar dengan latar belakang santri. Adapun ibundanya berasal dari keturunan Arab yang lama menetap di Solo, Jawa Tengah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru Beliau
2.3  Mendirikan Pengasuh Pesantren

3.    Penerus Beliau
3.1  Anak-anak Beliau

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Jasa-jasa Beliau
4.2  Karier Beliau

5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 

1.1 Lahir
KH. Mastur Asnawi atau yang akrab disapa Mbah Yai Mastur lahir pada 3 Juli 1895. Ayah beliau merupakan seorang saudagar dengan latar belakang santri. Adapun ibundanya berasal dari keturunan Arab yang lama menetap di Solo, Jawa Tengah.

1.2 Wafat
Saat usianya mencapai 87 tahun, Kiai Mastur Asnawi sudah mulai sakit-sakitan hingga akhirnya wafat pada 2 Agustus 1982.

1.3 Riwayat Keluarga
Selama hidupnya, beliau ini menikah sebanyak empat kali. Namun, beliau tidak pernah melakukan poligami terhadap istri-istrinya. Pernikahan yang kedua dan berikutnya terjadi karena istri yang pertama (dan yang sebelum berikutnya) sudah lebih dahulu dipanggil oleh Allah.

Lengkapnya, keempat istrinya itu adalah Hj Juwariyah, Nyai Masturoh, Hj Latifah, dan Nyai Maskanah. Kiai Mastur memiliki tujuh anak saat menikah dengan Nyai Masturoh di antaranya: Jamilah, Muchtar, Raudhoh, Khamim, Ramlah, Mahbub dan Khoiriyah.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

Dari Pesantren Langitan, KH. Mastur Asnawi berkesempatan untuk pergi berhaji. Antara tahun 1912 dan 1919, dirinya menimba ilmu-ilmu agama di Tanah Suci.

2.2 Guru-Guru
KH. Khozin

2.3 Mendirikan  Pondok Pesantren
Pengalaman cukup beragam selama tujuh tahun belajar di Masjidil Haram. Beliau juga menjalin persahabatan dengan sejumlah pelajar yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh Islam yang terpengaruh. Sebut saja, KH. Mas Mansur dan KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Dari Makkah, KH. Mastur Asnawi kembali pulang ke kampung halamannya. Di Lamongan, Jatim, masyarakat setempat sudah lama menanti-nantikan kedatangannya. Mereka ingin sang alim turut berperan dalam menyebarkan dakwah Islam, khususnya di daerah ini.

Sebagai seorang ulama, KH. Mastur Asnawi sangat berperan dalam pengembangan pendidikan. Pada 1919, ia mendirikan Tahfizul Quran. Melalui majelis taklim ini, alumnus Makkah itu menekankan pentingnya kajian be

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+