Biografi KH. Sa’doellah Nawawie, Ingin Mati Ditembak Belanda Demi Indonesia.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Ingin Syahid Ditembak Belanda Demi Indonesia
3.2 Membekali Tentara dengan Ilmu Batin
3.3 Berjuang Tanpa Pamrih
3.4 Kembali ke Pesantren
3.5 Kaderisasi untuk Masa Depan
3.6 Mendirikan RMI
3.7 Terjun ke Dunia Politik
3.8 Membrantas PKI
4. Teladan
4.1 Sikap Terhadap Keluarga
4.2 Telaten Mendidik Santri
4.3 Disiplin dan Tepat Waktu
4.4 Supel dalam Bergaul
4.5 Menolak jadi Menteri Agama
4.6 Penghubung Ulama dan Umara
5. Keistimewaan dan Karomah
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Sa’doellah lahir di Sidogiri pada tahun 1922 M, beliau adalah anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan KH. Nawawie bin Noerhasan dan Nyai Asyfi’ah yang sering disebut Nyai Gondang. Kakaknya yang seayah dan seibu adalah KH. Siradjul Millah-Waddin, sedangkan adiknya KH. Hasani dan seorang perempuan yang meninggal pada usia 4 (empat) tahun.
KH. Nawawie, abahnya, adalah ulama besar yang menjadi salah seorang pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ini menyetujui pendirian NU dengan syarat tidak mengurus uang (baca: tidak mengambil iuran pada anggota).
Kyai Sa’doellah, dibandingkan saudara-saudaranya, sejak kecil Kyai Sa’doellah bisa dibilang unik. Saat kecil, beliau sangat dekat pada abahnya, KH. Nawawie. Saking dekatnya, apa saja yang dilakukan abahnya beliau tiru. Dan setiap kali abahnya bepergian, beliau mengikutinya dari belakang. Selain itu, KH. Nawawie memberi perhatian penuh padanya.
Sejak kecil sudah tercermin bahwa beliau kelak akan menjadi orang besar dan ahli berdiplomasi. Suatu ketika ada seorang Arab bertamu pada KH. Nawawie. Saat itu Kyai Sa’doellah kecil duduk di samping abahnya tanpa memakai busana apapun.
Lantas orang Arab itu berkata,” Lho kelihatan pusarnya, aurat itu. Haram, haram!”. Dibilang begitu, Kyai Sa’doellah kecil ‘nyelonong masuk ke dalam dan kembali dengan memakai sabuk untuk menutupi pusarnya, tapi tetap tidak memakai baju.
1.2 Riwayat Keluarga
Kyai Sa’doellah menikah dengan Nyai Sa’diyah binti KH. Syamsul Arifin dari Bondowoso tahun 1953 M. Dua hari setelah pernikahannya, Kyai Sa’doellah diberi seekor burung Kakak Tua oleh temannya. Setiap melihat beliau, burung ini mengangkat satu kakinya dan memekikkan kata, “Merdeka!”. Dari pernikahan beli
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

