Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmad bin Syu’aib, Pengasuh Pesantren MUS Sarang, Rembang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmad bin Syu’aib, Pengasuh Pesantren MUS Sarang, Rembang

lahir 1884 M · 4.890 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Kyai Ahmad bin Syu’aib tekun dalam mencari ilmu, memusatkan perhatian pada ibadah malam dan puasa di siang hari, menjauhi godaan hawa nafsu. Setiap saat, waktu disisihkan untuk aktivitas yang bermanfaat, berusaha mencapai pemahaman yang lebih tinggi melalui ilmu dan kesadaran spiritual.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendiidkan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengajar
3.2  Menjadi Pengasuh Pesantren

4.    Teladan
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Kyai Ahmad bin Syu’aib lahir di Sarang pada abad ke-14, tahun 1301 H/1884 M, beliau dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Beliau mempelajari membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama Islam dari ayahnya dan juga dari para masyayikh di Sarang, terutama KH. Umar bin Harun dan KH. Murtadha bin Muntaha.

1.2 Riwayat Keluarga
Pertama-tama, KH. Ahmad bin Syu’aib menikah dengan putri KH. Abdul Lathif Lasem, tetapi pernikahan tersebut tidak dikaruniai seorang anak. Setelah tiga tahun, beliau cerai dengan istri pertamanya dan menikahi Khadijah bin H. Usman Tuban, keturunan KH. Ma’ruf yang dikenal alim. Dari pernikahan tersebut, beliau diberkahi dengan beberapa anak, di antaranya:
1. Ibu Nyai Mahmudah (Istri Kyai Zubair Dahlan)
2. Kyai Abdul Jalil
3. Ibu Nyai Hamidah (Istri Kyai Ridwan)
4. Kyai Abdul Hamid
5. Ibu Nyai Muhammadah (Istri KH. Zubaidi)
6. Kyai Abdurrahim

1.2 Wafat
Sebelum wafat, KH. Ahmad bin Syu’aib menderita penyakit demam sejak bulan Jumadil Awal. Rasa sakitnya terus bertambah hingga menjelang akhir hayatnya pada tanggal 10 bulan Rajab. Pada malam Selasa tanggal 20 Rajab 1386 H/5 November 1966, beliau wafat di usia sekitar 85 tahun.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Pada usia 20 tahun, beliau melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu di Kota Makkah Al-Mukarramah selama dua tahun. Di sana, beliau belajar dari ulama terkemuka dalam berbagai disiplin ilmu dan kealiman.

Selama tinggal di Makkah, Kyai Ahmad bin Syu’aib menjadi santri di tempat yang dipimpin oleh Sayyid Umar Syatha, yang juga dikenal sebagai Sayyid Syatha. Meskipun mengabdikan waktunya untuk belajar, Kyai Ahmad juga tertarik untuk memperdalam pemahamannya dalam bidang thariqoh atau tarekat. Namun, ketika beliau meminta izin kepada Sang Guru untuk mempelajari tarekat, permintaannya tidak direspons dengan baik.

Sebagai gantinya, Sang Guru memberinya dua kitab penting: Yawaqiit Wajawahiir karya Syaikh Abdul Wahab As-Sya’rani, dan Risalatul Imam As-Syufiyyi As-Syaikh Al-Imam Al-Qusyairi, seraya memberi instruksi untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Kitab-kitab tersebut tidak hanya diberikan kepada Kyai Ahmad, tetapi juga disertai dengan ijazah khusus yang menguatkan otoritas beliau untuk mempraktikkan dan mengajarkan isi kitab-kitab tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah dua tahun di Makkah, KH. Ahmad bin Syu’aib kembali ke tanah kelahirannya. Meskipun memiliki pengetahuan dari Makkah, beliau tidak langsung mengajar, melainkan melanjutkan pencarian ilmu. Beliau kemudian pergi ke Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, yang dipimpin oleh pendiri Nahdhatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari yang memberinya perhatian khusus dan beberapa kitab yang digunakan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+