Syekh Mas’ud Kawunganten adalah pengasuh Pesantren Al-Barokah Salafiyyah. Beliau juga merupakan Ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Madrasah
3.2 Mendirikan Pesantren
3.3 Mendirikan Lembaga Pendidikan
3.4 Pendakwah
3.4 Peranan di Nahdlatul Ulama
4. Teman Dekat Gus Dur
5. Karya-Karya
6. Chart Silsilah Sanad
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Mas’ud lahir pada tahun 1923 di Purworejo, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari pasangan Kyai Muhyidin dengan Nyai Sangadah. Ayah beliau adalah pendatang dari Purworejo, Jawa Tengah yang menetap di Kawunganten sebagai petani sekaligus sebagai Kyai yang mengajarkan agama Islam.
1.2 Keluarga
Setelah menyelesaikan belajarnya di pesantren, beliau pulang ke kampung halamannya, sekitar tahun 1960-an. Satu tahun beliau menetap di Kawunganten, Cilacap, Syekh Mas’ud menikah dengan Nyai Maysyaroh, putri KH. Suhaimi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah, Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah dan dikarunia 5 orang anak.
1.3 Wafat
Hari Sabtu tanggal 5 Maret 1994 M atau bertepatan dengan tanggal 22 Ramadhan 1414 H, Syekh Mas’ud menghembuskan nafas terakhir. Beliau meninggal dunia pada usia 68 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pesantren Al-Barokah untuk mempermudah masyarakat berziarah. Hingga saat ini, makamnya banyak diziarahi masyarakat sekitar dan dari luar daerah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Usia kanak-kanak Syekh Mas’ud hidup bahagia dalam lingkungan keluarga besarnya, beliau menikmati masa kecilnya dengan belajar dan bermain bersama saudara-saudaranya. Beliau dan saudara-saudaranya setiap malam habis Maghrib belajar agama kepada ayahnya, Kyai Muhyidin.
Pada umur 10 (sepuluh) tahun, Syekh Mas’ud dikirim ayahnya ke Desa Sarwadadi Kawunganten untuk belajar Al-Qur’an kepada Kyai Hanafi, kurang lebih selama dua tahun. Kemudian meneruskan belajar ke Wajasari, Kebumen. Syekh Mas’ud tekun mempelajari dan menghafal Kitab Alfiyah Ibn Malik kepada KH. Ahmad bin Muhammad Husein Wajasari selama empat tahun.
Setelah beliau selesai menghafalkan dan memahami Alfiyah dengan baik. Syekh Mas’ud melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Al-Ikhsan Jampes, Kediri. Di sini Syekh Mas’ud menimba ilmu kepada Syekh Ikhsan bin Dahlan, salah seorang ulama yang karyanya, Siraj At-Thalibin dan Minhaj Al-‘Abidin dijadikan buku wajib untuk kajian post-graduate di Al-Azhar dan beberapa perguruan tinggi lainnya.
Tujuh tahun mempelajari beberapa kitab kuning di
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

