Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mushlih Bin H. Abdurrozi (Mama Jenggot), Muasis Pesantren Al-Muslih Karawang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mushlih Bin H. Abdurrozi (Mama Jenggot), Muasis Pesantren Al-Muslih Karawang

1905 – 1985 M · 3.902 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Mushlih bin H. Abdurrozi yang lebih dikenal dengan panggilan Mama Ajengan Jenggot

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Cucu

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2  Karier

5.   Referensi

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Mushlih bin H. Abdurrozi yang lebih dikenal dengan panggilan Mama Ajengan Jenggot, lahir pada tahun 1905 M di Desa Loji, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, dari seorang ibu bernama Hj. Romlah. Ayahnya bernama H. Abdur Rozi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Embah Penghulu Kadar. Keduanya merupakan keturunan dari Syekh Maulana Hasanudin, Banten. Semasa kecil Hadratus Syekh lebih dikenal dengan nama Den Enoh.

1.2 Wafat
Beliau berpulang ke Rahmatullahi pada hari Selasa, tanggal 15 Sya’ban 1405 H / 1985 M dalam usia ± 80 tahun

1.3 Riwayat Keluarga
Beliau menikah seorang wanita sholehah dari pernikahan itu dikaruniai beberapa anak

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Pada awalnya beliau belajar kepada KH. Masduki dari Waru, Pangkalan. Kemudian ke Citeko dan Cibogo, Plered. Lalu ke Pesantren Cigondewa , ke Mama Gedong (Ama Dimyati) Sukamiskin, Bandung, serta ke KH. Zaenal Mustofa, Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya. Sedangkan di bidang ilmu alat beliau belajar di Pesantren Sukaraja, Limbangan, Garut.

Beliau juga tercatat sebagi santri pertama Pesntren Cipasung, Tasikmalaya, karena KH. Ruchyat, pendiri pesantren tersebut bersama-sama dengan beliau belajar di Sukamanah.

Ketika KH. Ruchyat pulang dan mendirikan pesantren Cipasung, beliau ikut dan menjadi santri pertamanya, sekaligus menjadi ustadz / guru bagi santri baru.

Beliau juga pernah belajar ke KH. Thubagus Mansyur (Paman beliau) di Ciserang Ujung Timur, Desa Cibogo Girang, Plered, Purwakarta, untuk memperdalam ilmu silat disamping ilmu-ilmu agama, dan ilmu silat ini juga beliau dapatkan dari orang tuanya.

Dalam bidang thariqah, beliau mengambil Thariqah Qadiriyah dan bersanad ke KH. Suja'i, Buah Batu, Bandung (salah seorang tokoh pendiri UNINUS Bandung), dan KH. Ja’far Shadik, Sukamiskin, tetapi tidak diketahui kepada siapa beliau berguru / mendapat ijazah thariqah, namun beliau tabaruk thariqah ke Sukamiskin, Bandung.

Dalam bidang ilmu dalail dan ilmu hikmah beliau berguru kepada Ama Ajengan (Eyang) Rende (KH. Ahmad Zakariya bin H. Muhammad Syarif), salah seorang guru yang sangat dekat dengan beliau dan pernah mukim di Masjidil Haram selama 21 tahun.

2.2 Guru-Guru:

  1. KH. Masduki
  2. Mama Gedong (Ama Dimyati) Sukamiskin
  3. KH. Zainal Mustafa
  4. KH. Ruchyat
  5. KH. Thubagus Mansyur (Paman beliau)
  6. KH. Suja'i,

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+