K.H. Zainal Mustafa adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.Lahir di Desa Cimerah, Kec. Singaparna, Tasikmalaya pada tahun 1809 dari pasangan Nawapi dan NY. Ratmah. Sewaktu masih kecil bernama Umri dan sepulang dari pesantren berganti nama menjadi Hudaemi.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Peran di Nahdlatul Ulama
4. Pejuang Melawan Penjajah
5. Diangkat Menjadi Pahlawan
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 lahir
KH. Zainal Mustafa lahir pada tanggal 1 Januari 1899 di Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya. Beliau merupakan putra dari pasangan Bapak Nawapi dan Ibu Ratmah. Sewaktu masih kecil, KH. Zainal Mustafa bernama Umri dan sepulang dari pesantren berganti nama menjadi Hudaemi.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Zainal Mustafa menikah dengah Nyai Enoh Sukaesih, dan dikarunai enam anak yakni: Mumu Najmul Muhtadin, Nyai Siti Shofiyah, Nyai Jueriyah, Bahaudin, Ny. Hj. Atik Atikah, dan Drs. Endang Nazaruddin Musthafa.
1.3 Wafat
Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta nemberi kabar bahwa KH. Zainal Mustafa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta.
Melalui penelusuran salah seorang santri beliau, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makam beliau itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santri beliau yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Hudaemi memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, beliau belajar mengaji dari guru agama di kampung beliau. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkan beliau untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali beliau melanjutkan pendidikan ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Kyai Dimyati, kakak sepupu beliau, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin.
Riwayat pendidikan beliau yakni:
1. Pesantren Gunung Pari,
2. Pesantren Cilenga,
3. Pesantren Leuwisari,
4. Pesantren Sukaraja Garut,
5. Pesantren Sukamiskin, Bandung.
6. Pesantren Jamanis Rajapolah.
Selama kurang lebih 17 tahun beliau terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah beliau mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.
Mulalui ibadah haji, beliau berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Beliau pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci.
2.2 Guru
Kyai Dimyati (KH. Zainal Muhsin).
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
Kontak dengan dunia luar itu mendorong beliau untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

