Ajengan Ruhiat lahir pada 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397, dan perhitungan menurut kalender Hijriah inilah yang dijadikan patokan peringatan haul-nya.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Perjuangan Melawan Penjajah
3.3 Kiprah Beliau di Nahdlatul Ulama
3.4 Perjuangan Beliau Melawan PKI
3.5 Perjalanan Beliau Paska Orde Baru
4. Pesan-Pesan Beliau Kepada Para Santri
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ruhiat atau yang kerap disapa dengan Ajengan Ruhiat lahir pada tanggal 11 November 1911 di Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. KH. Ruhiat terlahir dari keluarga pasangan Haji Abdul Ghafur dan Umayyah. Ayah beliau merupakan Lurah pada zaman kolonial atau sekitar tahun 1917 setelah penggabungan dua Desa yakni Cimunding dan Sukasenang.
1.2 Riwayat Keluarga
Dari pernikahannya KH. Ruhiat dikarunia dua puluh tujuh orang anak, yaitu: Hasan Ahmad Ruhiyat, KH. Ilyas Ruhiyat, Hj. Maemunah, Abdul Wahid Ruhiyat, KH. Dudung Abdul Halim Ruhiyat, Jubaedah, Siti Sa’adah, Hj. J. Mardiyah, KH. Abun Bunyamin Ruhiyat, Hj. Euis Hasanah, Hj. Hamidah, Hj. Habibah, H. Acep A. Ruhiyat, H. Agus Saiful Bahri Ruhiyat, Hafsoh, Hindasah, Hj. Zainab M., S. Munir Ruhiyat, H. Yusuf Amin Ruhiyat, Halimah, Fatimah, H. Komarudin Ruhiyat, H. Ubaedilah Ruhiyat, Hj. Atiyah, Hj. Laela S., Mahmudah, Hj. Neneng M.
1.3 Wafat
KH. Ruhiat wafat pada tanggal 28 November 1977 atau bertepatan pada tanggal 17 Dzulhijjah 1397, dan perhitungan menurut kalender Hijriah inilah yang dijadikan patokan peringatan haul-nya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Pada usia belia, KH. Ruhiat menimba ilmu di Pesantren Cilenga di bawah asuhan KH. Sobandi, kurun waktu 1922-1926. Di Pesantren Cilenga, beliau belajar bersama KH. Zaenal Mustofa yang belakangan dinobatkan sebagai pahlawan nasional karena melawan penjajah semasa Jepang.
Pada tahun 1927 hingga 1928, KH. Ruhiat mondok di Pesantren Cimasuk, Sukaraja, Kabupaten Garut, di bawah asuhan KH. Raden Ahmad Emed. Kemudian berlanjut di Pesantren Kubang Cigalontang di bawah asuhan KH. Abbas Nawawi dan Pesantren Cintawana di bawah asuhan KH. Toha.
2.1 Guru-Guru
1. KH. Sobandi (Pondok Pesantren Cilenga)
2. KH. Raden Ahmad Emed (Pondok Pesantren Cimasuk, Sukaraja)
3. KH. Abbas Nawawi (Pondok Pesantren Kubang, Cigalontang)
4. KH. Thoha (Pondok Pesantren Cintawana)
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
Setelah menimba ilmu ke berbagai pesantren, pada tahun 1931 KH. Ruhiat mendirikan Pesantren Cipasung dengan bangunan pertamanya yakni masjid, asrama, pondok atau rumah Kyai, dengan santri 40 orang. Bangunan itu didirikan di atas tanah milik ayah KH. Ruhiat.
"Bangunannya itu terbuat dari bambu atau semi permanen. Asrama yang pertama dibangun itu ada sampai saat ini namanya Asrama Pusaka," kata salah seorang keluarga Pesantren Cipasung.
Tahun pertama bermukim di daerah pesantren, KH. Ruhiat beradaptasi dan mencoba bersosialisas
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

