Teungku Haji Hasan Krueng Kale ( Hasan Hanafiah Krueng Kale ) lahir 18 April 1886 di Meunasah Ketembu, Sangeue, Kabupaten Pidie. Beliau seangkatan dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri, dan Teuku Nya' Arif yang banyak berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di wilayah Aceh.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Anak-anak
3.2 Murid-murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
4.2 Karier
4.3 Karya-karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Teungku Haji Hasan Krueng Kale (Hasan Hanafiah Krueng Kale) lahir pada 18 April 1886 di Meunasah Ketembu, Sangeue, Kabupaten Pidie. Beliau seangkatan dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri, dan Teuku Nya' Arif yang banyak berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di wilayah Aceh.
Beliau adalah putra dari ulama besar aceh, yakni Teungku Haji Muhammad Hanafiah, yang juga merupakan sahabat karib dari pahlawan nasional Teungku Syekh Muhammad Saman Tiro (Teungku Cik di Tiro). Sedangkan nama ibu beliau Nya' Ti Hafsah binti Teungku Syekh Ismail.
1.2 Riwayat Keluarga
Beliau memiliki tiga orang istri; Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem; Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee; dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong. Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee dikaruniai tujuh belas orang putra dan putri. Salah satunya yaitu Tgk. H. Syekh Marhaban yang sempat menjabat Mentri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
1.3 Wafat
Beliau meninggal pada 19 Januari 1973 saat berusia 86 tahun.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak kecil Teungku Hasan belajar pendidikan ke-Islaman dari ayahnya sendiri, di samping itu beliau juga belajar di beberapa meunasah (Sekolah Islam) yang ada di desanya. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke beberapa dayah (pesantren) yang ada di sekitar Pidie. Dayah pertama yang disinggahi untuk memperdalam ilmu-ilmu ke-Islamannya yaitu Dayah Teungku Chik di Keubok asuhan Teungku Musannif.
Pada tahun 1906, Teungku Hasan pergi ke Yan, Keudah, Malaysia untuk memperdalam berbagai ilmu yang telah ia dapatkan sebelumnya. Beliau dikirim ayahnya untuk belajar ke Dayah Yan dan berguru kepada Teungku H. Muhammad Arsyad, seorang ulama besar yang berasal dari Kerajaan Aceh Darussalam. Dayah Yan merupakan pusat pendidikan Islam di Semenanjung Melayu.
Setelah menamatkan belajarnya di Dayah Yan, pada tahun 1910, Teungku Hasan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk melanjutkan pendididikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam di Masjidil Haram, Makkah. Di sana beliau belajar kepada ulama-ulama besar dan masayikh (guru besar) di Masjidil Haram.
2.2 Guru-Guru:
1. Syekh Said Al-Yamani Umar bin Fadil
2. Syekh Khalifah
3. Syekh Said Abi Bakar Syatha Ad-Dimyaty
4. Syekh Yusuf An-Nabhany
5. Syekh Abdullah Ismail
6. Syekh Hasan Zamzami
7. Syekh Abdul Maniem
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

