Kiai Ali Yasin muda menimba ilmu di berbagai pesantren terkemuka. Awalnya, beliau dikirim ke Solo untuk menimba ilmu. Selanjutnya, beliau pindah ke Pesantren Tebuireng di Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Pada tahun 1917 M, di Boyolali Jawa Tengah dari pasangan KH. Yasin dan Nyai Hj. Masruroh. Sejak kecil, Ali Yasin telah dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang sarat dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Pendidikan agama yang ketat menjadikannya seorang ulama yang komprehensif, politisi, dan pejuang yang berjuang dengan penuh tanggung jawab sepanjang hidupnya.
1.2 Wafat
Pada pagi yang cerah, tanggal 3 Juli 1985, Allah SWT memanggil hamba-Nya yang dicintai, Kyai Ali Yasin wafat mendadak menjelang shalat Dhuha dan dimakamkan di Jember Lor. Almarhum meninggalkan 12 anak yang tersebar di berbagai daerah dengan profesi masing-masing.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Ali Yasin muda menimba ilmu di berbagai pesantren terkemuka. Awalnya, beliau dikirim ke Solo untuk menimba ilmu. Selanjutnya, beliau pindah ke Pesantren Tebuireng di Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Rasa haus akan ilmu mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan ke Pesantren Termas di Pacitan, di mana beliau bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti Saifuddin Zuhri, Mukti Ali, dan Idham Kholid. Setelah menuntut ilmu, Kyai Ali Yasin kembali ke kampung halaman dan menikah dengan Siti Asiyah di Ngawi, Jawa Timur.
2.2 Guru
KH. Mohammad Hasyim Asy’ari
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier
Setelah menikah, Kyai Ali Yasin diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA). Karena kepemimpinannya yang menonjol, kemudian terpilih sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ngawi pada periode 1942-1952. Dalam masa jabatan tersebut, Kyai Ali Yasin juga merangkap sebagai Kepala Staf Barisan Sabilillah dan menghabiskan lima tahun bergerilya di lereng Gunung Lawu untuk mengusir penjajah.
Pada tahun 1954, dipindahkan tugas ke Jember karena panggilan tugas dan di sana tetap berkhidmat di birokrasi hingga diangkat menjadi Kepala Departemen Agama Kabupaten Jember. Bagi Kyai Ali Yasin, birokrasi adalah lahan pengabdian sekaligus medan perjuangan untuk kepentingan umat melalui jalur struktural.
Kesibukannya semakin bertambah ketika terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) Jawa Timur periode 1966-1971. Posisi ini diraihnya karena menjabat sebagai Ketua Partai NU Jember. Sementara itu, politik dan birokrasi berjalan lancar, dan akhirnya menempati posisi Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Jawa Timur pada periode 1971-1975.
Pada Pemilu 1971, Kyai Ali Yasin terpilih sebagai anggota DPR RI. Namun, sebelum dilantik, memutuskan untuk mundur setelah berkonsultasi dengan Kyai Hamid Pasuruan yang memberikan sinyal kurang baik. Kyai Hamid berpesan, "Mugi-mugi Njenengan kiyat dienciki tiyang NU sak Indonesia, nggih," yang membuat Kyai Ali Yasin merasa tidak sanggup menanggung beban amanah tersebut dan akhirnya mengundurkan diri. Posisi Kyai Ali Yasin kemudian digantikan oleh H. Soewardi, seorang tokoh NU Jember juga.
M
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

