Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Abdul Chalim Leuwimunding
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Abdul Chalim Leuwimunding

1898 – 1972 M · 30.008 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Abdul Halim merupakan salah seorang muassis Nahdlatul Ulama (NU), lahir pada 3 Syawal 1304 H/ 26 Juni 1887 M di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka Jawa Barat. 

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Berdakwah dengan Paham Aswaja
3.2  Peranan KH. Abdul Chalim di Nahdlatul Ulama (NU)

4.    Karya-karya Beliau
5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Abdul Chalim merupakan salah seorang Muassis Nahdlatul Ulama (NU), lahir pada 2 Juni 1898 M di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, putra dari pasangan Kyai Muhammad Iskandar, salah seorang Penghulu Kadewanan Jatiwangi dan Ibu bernama Nyai Muthmainnah binti Imam Syafari.

1.2 Wafat
Pada suatu hari tanggal 12 Juni 1972 M, selepas menunaikan ibadah shalat, KH. Abdul Chalim menghadap Allah SWT dengan tenang dan dimakamkan di Kompleks Pesantren Sabilul Chalim Leuwimunding, Majalengka.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Saat kecil Kyai Abdul Chalim menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren, di antaranya belajar di Pesantren Trajaya (Majalengka), Pesantren Kedungwuni (Kadipaten) dan Pesantren Kempek (Cirebon). Pada tahun 1914 ketika usianya baru menginjak enam belas tahun, beliau berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz. Di sanalah beliau sempat menimba ilmu secara langsung dari Abu Abdul Mu’thi, Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani yang lebih tersohor dengan sebutan Imam Nawawi Banten.

Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan H. Jen. Di Makkah Abdul Chalim bertemu dan berkawan baik dengan KH. Abdul Wahab sebagai teman sekaligus gurunya. Kyai Abdul Chalim kemudian pulang ke tanah asalnya pada tahun 1917. Lalu satu tahun kemudian mencari ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Selama menuntut ilmu di Makkah sifat moderat dan kompromi sebagi ulama yang berjiwa besar ditunjukkan oleh Kyai Abdul Halim. Beliau adalah sosok yang berhasil mendamaikan KH. Wahab Chasbullah Jombang dan KH. R. Asnawi, Kudus, ketika terjadi gesekan di antara keduanya. Pada waktu itu kedua ulama besar yang berselisih ini merupakan senior sekaligus guru dari KH. Abdul Chalim. Dalam satu kesempatan Kyai Abdul Chalim juga patuh ketika KH. Wahab Hasbullah yang menegurnya karena sering memperdengarkan kidung bergaya Pasundan ketika sedang mengulang-ulang pelajaran.

2.1 Guru-guru
1. Kyai Muhammad Iskandar (Ayah KH. Abdul Chalim)
2. Abu Abdul Mu’thi
3. Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani atau Imam Nawawi Al-Bantani
4. KH. Abdul Wahab
5. KH. R. Asnawi, Kudus
6. H. Ali
7. H. Jen

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Sebagai putra tunggal seorang kuwu di Majalengka menjadikan KH. Abdul Chalim tidak cangung lagi ketika dilibatkan dalam berbagai kepengurusan di SI Hijaz. Demikian pun ketika beliau kembali ke Tanah Air pada 1917. Sepulangnya dari tanah Suci, KH. Abdul Chalim membantu orang tuanya di kampung untuk meringankan penderitaan rakyatnya akibat penjajahan Belanda.

Saat itu Abdul Chalim adalah anggota sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI), termuda di H

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+