KH. Sahlan Tholib Ulama Nahdlatul Ulama Sidoarjo Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Prfoil KH. Sahlan Tholib
Kelahiran
KH. Sahlan Tholib atau yang kerap disapa Romo atau Mbah Sahlan lahir pada tahun 1909, di Desa Terik, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Beliau merupakan putra kedua dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Muttholib dengan Ibu Nyai Khadijah.
Suadara-saudara beliau diantaranya, Gus Khusain, Romo (KH. Sahlan), Gus Isman, dan Gus Permadi.
Wafat
KH. Sahlan Tholib wafat kira-kira tahun 1972-an. Jenazah beliau dimakamkan di Sidorangu Krian.
Keluarga
KH. Sahlan melepaskan masa lajangnya dengan dinikahkan oleh gurunya dengan keponakannya sendiri akan tetapi tidak dikarunia anak dan kemudian KH. Sahlan atas perintah Gurunya Untuk menceraikannya.
Kemudian Mbah Sahlan mendalami ilmu agama lagi di Pondok Al-Khozini di Panji Buduran Sidoarjo Pada KH. Khozin.
KH. Sahlan pulang ke kampungnya di Desa Terik setelah itu menikah dengan Nyai Mudrikah putri KH. Mukti dengan Ibu Nyai Mar’ah dari di Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.
Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai, 3 putra 6 putri, anak-anak beliau diantaranya, Gus Abdul Qohir, Nyai Hj.Miskiyah, Nyai Hj.Miskinah, Gus H.Chudlori, Nyai Mu’ayadah, Nyai Hj.Siti Isnainiyah, Nyai Hj.Umi Kulsum, Gus Nur Hasan Samsul Arifin, dan Nyai Hj.Umi Mu'arofah.
Kemudian beliau menikah lagi dengan, Nyai Hj.Khomsatun dari Modong, Tulangan, Sidoarjo tidak diberi keturunan dengan Mbah Sahlan, lalu menikah lagi dengan Nyai Hj.Karimah dari Padangan, Bagusan, Mojokerto tidak diberi keturunan dengan Mbah Sahlan, lalu menikah lagi dengan Nyai Qomariyah dari Kalongan, Kudu, Jombang tidak diberi keturunan dengan Mbah Sahlan, lalu menikah lagi dengan Nyai Hj. Jonah dari Sumber, Terik, Krian, Sidoarjo tidak diberi keturunan dengan Mbah Sahlan.
Dan ketika menikah lagi dengan Nyai Hj.Muthowwi’ah dari Tegalsari, Mojoagung, Jombang, beliau dikaruniai 4 anak, diantaranya, Nyai Maslakhah, Nyai Hj. Maslamah, Nyai Masruroh dan Nyai Mamnuah.
Pendidikan
KH. Sahlan Tholib memulai pendidikannya dengan belajar mengaji kepada saudara sendiri sampai menjelang dewasa. Lalu Romo melanjutkan pendidikannya dengan mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Di desa Mindi Porong Sidoarjo pada KH. Marzuki. Romo merupakan santri yang sangat taat dan patuh pada gurunya sehingga dia menjadi santri yang sangat disayangi oleh Kiai Marzuki dan namanyapun diganti oleh gurunya yang asalnya Romo menjadi Sahlan.
Setelah selesai, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya disebuah pondok di Ketapang daerah Malang sampai ia mendapatkan benar-benar ilmu agama yang matang, barulah kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di kiai ternama di Bangkalan yaitu KH. Kholil Bangkalan.
Beliau sewaktu menjalani masa pendidikan di pondok pesantren memiliki sifat yang sangat dermawan, beliau tidak pernah kikir terhadap teman-temannya. Apa pun yang beliau miliki bila ada orang membutuhkan pasti beliau bantu.
Suatu ketika, beliau disuruh oleh guru atau kiainya di pondok untuk mengajar di tiap-tiap rumah sembari diberikan bekal uang dan sedikit beras, beliau terus bertanya kepada kyainya tersebut untuk apa uang saku dan sedikit beras itu, kemudian gurunya hanya diam
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

