Sepeninggal KH. Chudlori, kepengasuhan Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) dipegang putra-putranya, yakni KH. Abdurrahman Chudlori, KH. Mudrik Chudlori dan KH. Mahin Chudlori.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
3.2 Terjun ke Politik
4. Chart Silsilah Sanad
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdurrahman Chudlori atau yang akrab dengan sapaan Mbah Dur lahir pada tanggal 31 Desember 1943 M, di Kompleks Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra sulung KH. Chudlori, ulama besar yang disegani pada era 1940-1977.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Abdurrahman Chudlori menikah dengan Nyai Hj. Faizah binti Muthohar. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai enam anak, yaitu Gus Nasrul Arif, Gus Akhmad Izzuddin, Ning Kuni Sa'adati, Ning Nur Kholida, Ning Linatun Nafisah, dan Ning Zaimatus Sofia.
1.3 Wafat
KH. Abdurrahman Chudlori wafat pada tanggal 24 Januari 2011. Langit Tegalrejo yang semula cerah berubah berawan mendung, seakan menahan tangis atas kepergian salah satu bintang terang negeri ini. Bukan hanya keluarga, santri, masyarakat dan warga NU yang kehilangan beliau, namun bangsa ini kehilangan kyai dengan segudang ilmu, kyai karismatik yang getol memperjuangkan Islam.
Kabar tentang meninggalnya Mbah Dur dengan cepat menyebar, membuat peziarah yang berdesak-desakan hadir untuk memberi penghormatan terahir kepada kyai kharismatik ini. Mbah Dur dimakamkan di Pemakaman Keluarga Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Di masa usia belia, Kyai Abdurrahman mulai belajar di bawah pengawasan ayahandanya KH. Chudlori di API Magelang. Menginjak usia remaja Kyai Abdurrahman diperintahkan ayahnya untuk mondok di Pesantren Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur.
Selama kurang lebih enam tahun beliau berguru kepada KH. Djazuli Utsman, dan juga kepada putra-putra KH. Djazuli seperti KH. Zainuddin (Gus Din), KH. Nurul Huda (Gus Dah) dan KH. Hamim Jazuli (Gus Miek), yang saat itu sudah ikut mengajar. Setelah mondok ngilmu di Pesantren Ploso, Kediri, beliau melanjutkan belajar ngaji di Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen pada tahun 1964-1966.
Dari para gurunya itulah, beliau semakin berkembang sebagai pribadi yang demokratis namun terarah. Dengan sikap ini beliau lebih bisa menerima perbedaan dengan bijak, serta menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat sekitar, baik yang berkaitan dengan kepribadian atau urusan dunia dan akhirat.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Chudlori (ayah),
2. KH. Djazuli Utsman,
3. KH. Zaenudin Djazuli (G
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

