Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Chudlori
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Chudlori

wafat 1977 M · 72.897 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Chudlori lahir di Tegalrejo. Beliau merupakan putra kedua dari sepuluh bersaudara, dari pasangan K. Ikhsan dan Ibu Mujirah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren

4.    Chart Silsilah Sanad
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Chudlori lahir di Tegalrejo, beliau merupakan putra kedua dari sepuluh bersaudara dari pasangan K. Ikhsan dan Ibu Mujirah. Ayahnya adalah seorang pegawai (penghulu) yang menangani administrasi urusan agama di daerah pedalaman Kabupaten Magelang yang meliputi Kecamatan Candimulyo, Mertoyudan, Mungkid dan Tegalrejo.

Pada zaman Belanda, seorang penghulu dan keluarganya dihormati sebagai priyayi, sedangkan Ibu Mujirah adalah putri Karto Diwiryo yang menjadi Lurah di Kali Tengah.

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Chudlori menikah dengan putri KH. Dalhar Watucongol, dan sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halaman adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga beliau selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah SWT untuk niatnya itu.

KH. Chudlori dikarunia sepuluh anak, semua putranya adalah seorang kyai dan meneruskan perjuangan dakwahnya dengan merawat dan mengembangkan Pondok Pesantren API Tegalrejo, perjuangan di partai politik, dan sebagai da’i.

1.3 Wafat
KH. Chudlori wafat pada tanggal 28 Agustus 1977, jenazah beliau dimakamkan di Komplek Makam Keluarga Pesantren API Magelang.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Kyai Chudlori kecil dikirim ayahnya ke Pesantren Payaman yang diasuh KH. Siroj. Beliau menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke Pesantren Kuripan di bawah asuhan KH. Abdan.

Tidak lama kemudian, beliau pindah lagi ke Pesantren Kyai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928. Kehausan akan ilmu agama, membuatnya tak lelah menimbah ilmu. Setelah itu, beliau kemudian nyantri ke Pondok Pesantren Tebuireng yang waktu itu masih diasuh oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, beliau mempelajari berbagai macam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Kyai Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi hanya dihabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Saat itu, Kyai Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut.

Semua itu dilakukan, dalam rangka riyadhah, amalan yang biasa dilakukan para santri. Dikisahkah juga, bahwa ketika di Tebuireng Kyai Chudlori pernah membuat k

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+