Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek)

1940 – 1993 M · 139.172 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Hamim Tohari Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940. Beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri Pon-Pes Al Falah Mojo Kediri) dengan Nyai Rodhiyah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1       Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1    Lahir
1.2    Riwayat Keluarga
1.3    Wafat

2       Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1    Mengembara Menuntut Ilmu
2.2    Guru-Guru

3       Penerus
3.1    Putera dan puteri
3.2    Murid-murid

4       Jasa
4.1    Mendirikan Sema'an Al-Qur'an Dzikrul Ghofilin dan Jantiko Mantab

5       Karomah 
5.1    Kisah Gus Miek dan Semut
5.2    Harimau Penjaga Gus Miek
5.3    Ikan Piaraan Nabi Khidir

6       Kisah-kisah Lain 
6.1    Kisah Kewalian
6.2    Kisah Tentang Perempuan dan Kacamata
6.3    Kisah Bersama Presiden Ke-4

7       Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Hamim Tohari Djazuli, yang akrab disapa Gus Miek, lahir pada 17 Agustus 1940. Beliau adalah putra dari KH. Jazuli Utsman, seorang ulama sufi dan ahli tarekat yang mendirikan Pondok Pesantren Al Falah Mojo Kediri, dengan Nyai Rodhiyah. Pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Kyai Ahmad Jazuli Usman, tidak pernah membeda-bedakan dalam mendidik anak-anaknya, termasuk kepada Gus Miek.

1.2 Riwayat Keluarga
Di Ploso, di pesantren yang dipimpin oleh ayahnya, Gus Miek meminta dinikahkan. Permintaan ini akhirnya terwujud dengan pernikahannya bersama Zaenab, putri KH. Muhammad Karangkates, yang saat itu masih berusia 9 tahun. Pernikahan ini tidak berlangsung lama dan berakhir dengan perceraian ketika Zaenab berusia sekitar 12 tahun. Pada masa itu, Gus Miek sudah mulai aktif melakukan dakwah kultural di berbagai daerah, mencari berkah dengan mengunjungi guru-guru sufi, dan mendapatkan ijazah wirid-wirid.

Pada tahun 1960, Gus Miek kembali menikah, kali ini dengan Lilik Suyati dari Setonogedong, kota Kediri. Pernikahan ini dilangsungkan atas saran KH. Dalhar dan mendapat persetujuan dari KH. Mubasyir Mundzir, yang merupakan para guru Gus Miek. Para gurunya meyakini bahwa Lilik Suyati adalah sosok yang mampu mendampingi Gus Miek dalam kehidupannya yang penuh dengan kegiatan dakwah di luar rumah.

Namun, pernikahan ini awalnya mendapat penolakan dari KH. Djazuli Utsman dan Nyai Rodliyah. Setelah melalui proses yang panjang dan penuh pertimbangan, akhirnya pernikahan tersebut mendapat persetujuan. Pada saat itu, Gus Miek telah aktif berdakwah di tempat-tempat yang tidak lazim seperti diskotek dan tempat perjudian, serta tempat-tempat lainnya.

Buah dari pernikahan ini, Gus Miek dan Lilik Suyati dikaruniai enam anak, terdiri dari empat putra dan dua putri: H. Agus Tajjuddin Heru Cokro, H. Agus Sabuth Pranoto Projo, Agus Tijani Robert Syaifunnawas, H. Agus Orbar Sadewo Ahmad, Hj. Tahta Alfina Pagelaran, dan Ning Riyadin Dannis Fatussunnah.

1.3 Wafat
Gus Miek wafat pada tanggal 5 Juni 1993 di Rumah Sakit Budi Mulya Surabaya (sekarang Siloam), dan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+