Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Munif Djazuli
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Munif Djazuli

68.184 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Munif Djazuli Ulama Nahdlatul Ulama Kediri Jawa Timur, Untuk mempersembahkan cinta kasih beliau terhadap sang Ibu, Nyai Radliyah, Kiai Munif atas saran sang Ibu mendirikan pondok pesantren Queen Al-Falah

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Munif Djazuli

  1. Kelahiran
  2. Mendirikan Pesantren
  3. Menguasai Banyak Bahasa
  4. Teladan
  5. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

KH. Munif Djazuli lahir di Ploso, Kediri. Beliau merupakan putra kelima dari enam bersaudara, KH. Ahmad Djazuli Utsman dengan Nyai Rodliyah Djazuli.

Saudara-saudara beliau diantaranya, KH. Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Hamim (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im, KH. Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah.

Mendirikan Pesantren

Untuk mempersembahkan cinta kasih beliau terhadap sang Ibu, Nyai Radliyah, KH. Munif Djazuli atas saran sang Ibu mendirikan Pondok Pesantren Queen Al-Falah yang terletak di sebelah barat Pondok Pesantren Al-Falah. Nama Queen sendiri menurut penuturan Kiai Munif-diambil dari potongan ayat “quu anfusakum wa ahliikum naroo”.

Namun menurut Ning Eva, nama Queen yang artinya ratu itu, adalah untuk memuliakan para pemegang Al-Qur’an, memuliakan ibu, para wanita, menjadikannya ratu. Dan seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Queen berkembang menjadi sebuah pesantren yang menampung santri yang ingin sekolah formal.

Betapa perhatian KH. Munif Djazuli terhadap keluarganya, para putra-putri, sangat luar biasa. Beliau bahkan sering menyuruh para mufattiys, atau semacam guru privat untuk mengajari putra-putri beliau. Dalam prinsip beliu, yang paling penting dalam hidup ini adalah adab, budi pekerti, tata karma. Ilmu atau kepandaian itu nomor sekian.

Sehingga beliau sendiri selalu mencerminkan budi pekerti yang luhur dalam kesehariannya, sabar, teguh, tidak pernah mengeluh. Bahkan dalam kondisi kritis ketika akan dibawa ke rumah sakit Dr. Soetomo Surabaya dan kebetulan saat itu satu di antara beberapa keponakan yang mengantarkan lupa tidak memakai peci, dengan tegas beliau menegur “Wes bosen ta dadi santri?” sontak, semua pun takut.

Dan merasa beruntung bagi yang waktu itu memakai peci. Beliau benar-benar sangat memperhatikan bagaiamana etika seorang santri, terlebih keluarganya. Jangan sampai seorang santri melepaskan identitas kesantriannya. Sungguh, telaga teladan yang tak akan habis jika kita meminumnya. Terus meneladani seorang kiai, untuk melanjutkan estafet pewaris para Nabi.

Menguasai Banyak Bahasa

KH. Munif Djazuli merupakan sosok yang sangat cerdas, menurut beberapa saksi, termasuk putra-putrinya, beliau itu menguasai banyak bahasa, mulai Arab, Inggris, Cina, Mandarin, Jepang, Prancis, Spanyol dan sebagaianya. Entah dari mana beliau belajar bahasa-bahasa dunia itu, padahal jika dirunut ke belakang riwayat pendidikan beliau, dulu sekolah rakyat (SR) saja beliau tidak lulus.

Kecakapan beliau dengan menggunakan bahasa-bahasa –yang secara logika hanya bisa dilakukan oleh orang yang pernah mempelajarinya- membuat banyak kalangan menyebut bahwa Kiai Munif adalah sosok yang sangat santun dalam berbahasa, tak ayal beliau sering menjadi penengah di antara keluarganya, selalu bisa menyatukan, memberi jalan te

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+