KH. Dhofier Munawar Ulama Nahdlatul Ulama Situbondo Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Dhofier Munawar atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Dhofier, lahir pada tahun 1923 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Beliau adalah putra bungsu dari Kyai Munawar bin Kyai Ruham.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Dhofier Munawar adalah putra bungsu dari Kyai Munawar bin Kyai Ruham. Garis keturunan ini menunjukkan bahwa KH. Dhofier Munawar berasal dari keluarga ulama yang telah lama berkontribusi dalam pengembangan dan penyebaran ilmu agama di Indonesia
Selain nasab dari pihak ayahnya, KH. Dhofier Munawar juga memiliki hubungan keluarga dengan KH. As’ad Syamsul Arifin, pendiri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, melalui pernikahannya dengan Nyai Zainiyah As’ad. KH. Dhofier Munawar menikahi putri pertama KH. As’ad Syamsul Arifin, yang semakin memperkuat ikatan keluarga dan posisi beliau di pesantren tersebut.
KH. Dhofier Munawar dan Nyai Zainiyah As’ad dikaruniai lima anak di antaranya:
1. Nyai Qurratul Faizah
2. Nyai Tadzkirah (meninggal pada usia enam tahun)
3. Nyai Uswatun Hasanah
4. Nyai Umi Hani
5. KH. Ahmad Azaim Ibrahimy: Putra yang kemudian menjadi pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Garis keturunan KH. Dhofier Munawar menegaskan pentingnya peran keluarga dalam pengembangan ilmu agama dan pendidikan Islam di pesantren, serta warisan keilmuan yang dilanjutkan oleh keturunannya.
1.3 Wafat
KH. Dhofier Munawar wafat pada tanggal 10 Ramadhan 1405 H atau bertepatan pada 30 Mei 1985 M. Beliau wafat saat ngaji pasaran Kitab Tafsir Jalalain di Pondok Pesantren Sukorejo yang beliau asuh.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
KH. Dhofier Munawar memulai pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Di pesantren ini, beliau digembleng sendiri oleh kakak iparnya, KH. Abdullah Sajjad yang menikah dengan Nyai Shafiyah. Di Guluk-Guluk beliau belajar semua kitab tentang ilmu alat seperti nahwu dan shorof.
Setelah selesai belajar dengan kakak iparnya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Sidogiri, di bawah asuhan KH. Abdul Djalil. Di Pesantren Sidogiri ini, beliau pernah diangkat sebagai lurah pondok pesantren. Menurut penuturan beberapa teman sejawat yang semasa nyantri di Sidogiri, beliau terkenal dengan kewara’an dan kealimannya. Bahkan beliau dikenal sebagai “Macan Sidogiri”. Banyak santri yang
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

