Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KH. R. As'ad Syamsul Arifin melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/2016 tentunya menegaskan keterlibatan para ulama NU dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi KH. R. As’ad Syamsul Arifin
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Menjadi Pengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Putera-puteri
3.2 Cucu
3.3 Santri-santri
4 Jasa dan Karya
4.1 Jasa-jasa
4.2 Karya-karya
5 Kisah Teladan
5.1 Menerima Pancasila
5.2 Sikap Zuhud dan Wara’
6 Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)
6.1 Inisiator Pendirian NU
6.2 mbesarkan partai NU
6.3 NU kembali ke Khittah 1926
7 Karomah
7.1 Pejuang Kemerdekaan
7.2 Bisa Muncul di Banyak Tempat
7.3 Pasir Jadi Dentuman Senjata
7.4 Mecah Diri
7.5 Seorang Wali Quthub
8 Penghargaan
8.1 Diangkat Jadi Pahlawan Nasional
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Haji Raden As'ad Syamsul Arifin adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Beliau adalah ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Mustasyar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya.
Kyai As'ad lahir di Syi'ib Ali, Makkah pada tahun 1897 M/1315 H. Beliau merupakan anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, keduanya berasal dari Pamekasan, Madura. Beliau mempunyai adik bernama Abdurrahman. KH. R. As'ad Syamsul Arifin dilahirkan di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Makkah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman. KH. R. As'ad Syamsul Arifin masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama KH. Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Ampel dari jalur sang ayah. Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu Sunan Kudus.
Pada usia enam tahun, KH. R. As'ad Syamsul Arifin dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Sedangkan adiknya, Abdurrahman, yang masih berusia empat tahun dititipkan kepada Nyai Salhah, saudara sepupu ibunya yang masih bermukim di Makkah. Setelah lima tahun tinggal di Pamekasan, KH. R. As'ad Syamsul Arifin diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus,
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

