Kyai Ahmad Siroj Solo Jawa Tengah Ulama Nahdlatul Ulama
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Keilmuan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Karomah
4.1 Kasyaf
4.2 Berulang kali Haji
4.3 Berjalan sangat Cepat
4.4 Nasi Satu Kendil
4.5 Erat dengan Pejabat/Raja
4.6 Pintu Terkunci bisa Masuk
4.7 Hujan Tapi tidak Basah
4.8 Sungai Banjir bisa Dilewati
4.9 Bak mandi Kosong, Tiba-tiba Penuh
4.10 Impian jadi Kenyataan
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Siroj lahir tahun 1878 M di Tengaran, Kabupaten Semarang. Beliau merupakan putra pertama dari tiga bersaudara, dari KH. Umar atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Pura. Saudara-saudara beliau diantaranya, KH. Kholil dan KH. Djuwaidi.
Nasab KH. Ahmad Siroj dari jalur ayah memiliki garis keturunan dengan Sunan Hasan Munadi, salah seorang paman R. Patah yang ditugaskan mengislamkan daerah lereng Gunung Merbabu sebelah utara, atau sekarang dikenal sebagai Desa Nyatnyono.
1.3 Wafat
Ketika KH. Ahmad Siroj sakit dan kemudian meninggal dunia pada Senin Pahing, 27 Muharram 138 H atau 10 Juni 1961, KH. Zaenal Makarim (Karang Gede) bermimpi bertemu dengan KH. Ahmad Siroj. Dalam mimpi tersebut, KH. Ahmad Siroj bertanya, “Mengapa saya sakit tak kau jenguk?”
Terkejut, KH. Zaenal Makarim segera berangkat ke Solo untuk menjenguk KH. Ahmad Siroj. Namun, setibanya di Solo, jenazah KH. Ahmad Siroj telah diberangkatkan dan sudah sampai di Jalan Rajiman, Kadipolo. Beliau kemudian mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Dari Allah kita berasal, dan kepada-Nya pula kita akan kembali.”
Peristiwa serupa juga dialami oleh Sayyid Abdullah di Kepatihan, Solo. Pada pagi hari itu, sekitar pukul 05.00, Sayyid Abdullah bermimpi didatangi KH. Ahmad Siroj yang membangunkannya dengan berkata, “Sampun nggih Bib, kula rumiyin, sampeyan kantun.” (Sudahlah Bib, saya duluan, Anda menyusul).
Terkejut, Sayyid Abdullah segera pergi ke rumah KH. Ahmad Siroj di Panularan. Di sana, mendapat berita bahwa KH. Ahmad Siroj telah meninggal dunia pada pukul 04.00 pagi hari itu. Dalam hati, Sayyid Abdullah merasa heran karena pada pukul 04.00 pagi KH. Ahmad Siroj meninggal dunia, namun pada pukul 05.00 seolah berkunjung ke Kepatihan. Beliau pun segera memanjatkan doa bagi almarhum KH. Ahmad Siroj.
Jenazah KH. Ahmad Siroj kemudian dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo.
Semasa hidupnya, KH. Ahmad Siroj tidak pernah mengaku sebagai seorang waliyullah secara pribadi. Namun, banyak orang yang mengakui kewalian beliau beserta karomahnya. Peristiwa di atas hanyalah sebagian kecil dari karomah yang dimiliki KH. Ahmad Siroj untuk membuktikan kewalian beliau. Banyak cerita lain di masyarakat Solo yang menggambarkan ‘keistimewaan’ KH. Ahmad Siroj dalam kepribadiannya.
2. Sanad Keilmuan
Sewaktu masih muda, KH. Ahmad Siroj belajar beberapa pesantren, diantaranya,
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

