KH. Thoifur Ali Wafa Ulama Nahdlatul Ulama Sumenep Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Thoifur Ali Wafa
Kelahiran
KH. Thoifur Ali Wafa lahir pada 20 Sya’ban 1384 H atau bertepatan pada tahun 1964 di Ambunten Sumenep. Beliau merupakan putra dari pasangan Kiai Ali Wafa dan Nyai Mutmainnah binti Dzil Hija.
Silsilah dari ayahnya, Thoifur adalah keturunan Syeikh Abdul Kudus (akrab disebut Al-Jinhar) yang tinggal di Desa Sariqading.
Sedangkan, dari silsilah ibunya, beliau termasuk bagian dari keluarga desa Waru Pamekasan. Dzil Haja nikah dengan Halimatus Sa’diyah yang berasal dari Desa Bindang keturunan Syeikh Abdul Bar (akrab disebut Agung Tamanuk) ada yang mengatakan nasab Thaifur Ali Wafa berujung sampai Pangeran Katandur yang di makamkan di Sumenep.
Keluarga
Setelah empat belas tahun Thaifur pergi ke Mekah beserta Syekh Ali Hisyam untuk menunaikan haji dan ziarah. Mereka berdua berziarah ke asta Rasulullah saw. Dan, pada usia ini ia ditunangkan dengan putri Syekh Abdullah Salilul Khalil kemudian ia menikahinya sampai sekarang. Sedangkan, orang yang melamar adalah saudara suami saudarinya, Syekh As’ad bin Ahmad Dahlan.
Pendidikan
Ketika menginjak usia remaja, KH. Thaifur Ali Wafa memulai pendidikannya dengan belajar di Pesantren Demangan Bangkalan untuk mencari ilmu kepada seorang KH. Masyhur, KH. Abdullah Schal. Kiai Abdullah adalah cicit Syaichona Kholil Bangkalan.
Dipondok Syaichona Kholil itu Kiai Thoifur belajar berbagai kitab kelas menengah seperti Shohih Bukhori, Sullamul Munawraq, dan lain-lain. Di kemudian hari Kiai Abdullah mengambil Kiai Thoifur sebagai menantunya.
Sebelum pergi ke Mekkah untuk berguru kepada Syekh Ismail Zain, Kiai Thoifur melanjutkan pendidikannya dengan belajar di berbagai pondok di tanah Jawa, di antaranya Pondok Pesantren Lasem Rembang dan Batokan Kediri. Di pondok terakhir ini beliau mengaji kepada Mbah Kiai Jamal pengasuh Batokan kala itu.
Setelah itu dia melanjutkan rihlah ilmiahnya menuju kota suci Mekkah. Di kalangan pesantren Mekkah dan Yaman memang sering menjadi jujugan para gus untuk menuntut ilmu secara informal.
Di Mekkah Kiai Thoifur berguru kepada guru-guru (syekh) ternama. Di antara para masyayikh yang beliau serap ilmunya adalah Syekh Abdullah bin Ahmad Dardum dan Syekh Ismail Zen. Kepada nama pertama Kiai Thoifur banyak mengambil ilmu nahwu. Memang Syekh Abdullah Dardum dikenal sebagai Sibawaihi ashrih, Sibawaih masa itu di Hijaz.
Di masa-masa ini Kiai Thoifur mulai mempelajari seni tulis menulis (fannul kitabah) yang mana hal ini di masa mendatang membuat beliau dikenal sebagai kiai yang sangat produktif (muktsirut ta’lif).
Sedangkan kepada Syekh Ismail, Kiai Thoifur banyak mengambil berbagai macam ilmu utamanya fikih. Syekh Ismail Zen seringkali meminjamkan kitab-kitabnya agar dibaca Kiai Thoifur. Hubungan keduanya semakin dekat. Kiai Thoifur seringkali disuruh mencatat hal-hal yang dianggap Syekh Ismail penting. Bahkan di kemudian hari Kiai Thoifu
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

