Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Ilyas
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Ilyas

1911 – 1970 M · 26.171 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Muhammad Ilyas Ulama Nahdlatul Ulama Probolinggo Jawa Timur

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Nasab
1.4  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.    Chart
5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Muhammad Ilyas lahir pada tanggal 23 November 1911 di Desa Krucil, Kecamatan Kraksaan, Probolinggo. Beliau merupakan anak pasangan dari KH. Qulyubi dengan Mardliyyah putri KH. Ilyas, seorang ulama kharismatik asal Sewulan, Madiun. Adik perempuan ibunya, bernama Nafiqah, dinikahi oleh KH. Hasyim Asy’ari.

1.2 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1936 KH. Muhammad Ilyas menikah dengan Nyai Zahrah, putri H. Ismail, seorang saudagar dari Pekalongan. Setelah menikah, beliau berhijrah dan menetap di Pekalongan. Di Kota Batik ini, KH. Muhammad Ilyas memulai kiprah dakwahnya.

1.3 Wafat
KH. Muhammad Ilyas wafat pada tanggal 5 Desember 1970 di RSUP. Cipto Mangunkusumo, beliau dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
KH. Muhammad Ilyas kecil tumbuh dalam didikan paman dan bibinya. Kemudian melanjutkan pendidikannya dengan belajar di HIS (Hollands Indische School) di Bubutan Surabaya. Ketika sekolah di HIS, beliau seangkatan dengan Ruslan Abdul Ghani (Tokoh PNI) dan Dul Arwana (Wali Kota Surabaya pertama pasca kemerdekaan).

Setelah tamat HIS, KH. Muhammad Ilyas kemudian dikirim oleh sang ayah untuk nyantri kepada paman iparnya sendiri, KH. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebuireng. Selama di Tebuireng KH. Muhammad Ilyas bersama KH. Wahid Hasyim, sepupunya yang lebih muda 3 tahun, belajar bahasa Inggris dan Belanda.

Kecerdasan dan ketekunan membuat KH. Muhammad Ilyas mendapatkan kesempatan sebagai pengajar sejak usia 15 tahun di Madrasah Tebuireng menggantikan KH. Ma’shum Ali.

Di antara langkah yang ditempuh KH. Muhammad Ilyas kemudian adalah memasukkan kurikulum umum seperti membaca dan menulis huruf latin, ilmu aljabar, ilmu bumi, dan bahasa. Pada masa itu, langkah tersebut terbilang kontroversial, sehingga banyak mendapatkan kritikan dari para kyai. Meski demikian proses pembelajaran umum di Madrasah Salafiyyah Tebuireng waktu itu tetap dijalankan, karena KH. Hasyim Asy’ari sendiri sangat mendukung hal tersebut.

Sejak saat itulah, berbagai surat kabar, majalah dan buku pengetahuan umum masuk ke Pesantren Tebuireng. Langkah ini terbukti berhasil mana kala di kemudian hari banyak alumnus Tebuireng yang menjadi Anggota Sangi Kai (Dewan Karesidenan), karena memiliki banyak pengetahuan umum.

Setelah empat tahun menjadi kepala madrasah di

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+