KH. Munasir Ali lahir pada tanggal 2 Maret 1919 M. di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Beliau merupakan putra Lurah di Desa Modopuro Haji Ali dengan Ibu Hasanah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Kiprah di Nahdlatul Ulama
3.2 Melawan Penjajah
3.3 Terjun ke Politik
3.4 Mendirikan Pendidikan Formal
4. Chart Silsilah Sanad
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Munasir Ali lahir pada tanggal 2 Maret 1919 M di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Beliau merupakan putra Lurah di Desa Modopuro Haji Ali dengan Ibu Hasanah.
Ayah beliau merupakan orang yang terpandang di Mojosari. Selain kedudukannya sebagai Lurah, beliau juga memiliki daya linuweh sehingga banyak orang yang tunduk atas kewibawaannya. Selain itu, Haji Ali itu juga memiliki kekayaan yang berlimpah.
Dari kekayaannya tersebut membuat anak-anaknya diberi bagian dari kekayaannya dengan bagian sawah juga rumah-rumah yang bagus pada waktu itu. Habibullah mengenang, zaman dulu, di daerah Modopuro hanya beberapa rumah saja yang bagus. Itu pun milik Haji Ali dan anak-anaknya.
Meskipun demikian, yang berbeda dari sosok Kyai Munasir kecil, beliau tidak pernah membanggakan kekayaan ayahnya. Kyai Munasir kecil jarang tidur di rumahnya, beliau sering bermain di Pekukuhan.
1.2 Keluarga
KH. Munasir menikah dengan Nyai Muslichah putri KH. Dahlan Syafii. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 14 orang anak, 23 cucu dan 3 orang cicit. Putra pertamanya, Rozy Munir pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Pemberdayaan BUMN.
1.3 Wafat
KH. Munasir wafat tepat saat usianya memasuki 83 tahun. Beliau meninggal pada hari Jum'at, 11 Januari 2002 pukul 23:15. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di Pekukuhan Mojosari, Mojokerto.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. Munasir memulai pendidikannya di sekolah HIS (Hollandsch Inlandsche School) yakni lembaga pendidikan milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1933 M. beliau menamatkannya. Dan kemudian beliau punya keinginan kuat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
Namun orang tuanya tidak mengizinkannya. Haji Ali menyarankan putranya untuk pergi melanjutkan ke Pondok Pesantren. Pesantren pertama yang disinggahi oleh Kyai Munasir Ali adalah Pesantren Al-Islah Trowulan Mojokerto, di bawah asuhan KH. Dimyati. Kyai Munasir Ali belajar dasar-dasar ilmu agama Islam di pesantren ini. Namun di pesantren ini, Kyai Munasir Ali tidak bertahan lama. Beliau kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Pesa
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

