KH Ali Darokah Ulama Nahdlatul Ulama Solo Jawa Tengah
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Ali Darokah
- Kelahiran
- Pendidikan
- Lurah di Pondok Pesantren Jamsaren
- Menjadi Ketua Umum MUI Surakarta
- Teladan
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Ali Darokah lahir tahu 1920 M di lingkungan Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta. Beliau merupakan sosok Kiai yang masih punya hubungan darah dengan KH. Muqoyyad, seorang panglima perang yang membantu pangeran Diponegoro saat perang Jawa (1825-1830).
Pendidikan
KH. Ali Darokah memulai pendidikannya dengan belajar berbagai ilmu agama, seperti ilmu tajwid, qiro'ah, tafsir, hadis, fiqh, nahwu sorof, balaghoh, mantiq, tarikh, tasawuf, dan ilmu falaq kepada kakeknya bernama KH. Idris (Klaten).
Berkat asuhan, didikan, dan binaan kakeknya inilah KH. Ali tumbuh besar sebagai pribadi yang cerdas dan religius. Setelah selesai belajar dengan kakeknya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di madrasah Mambaul Ulum yang diasuh oleh pamannya KH. Ghozali.
Perjalanan pendidikan KH. Ali dihabiskan di madrasah Mambaul Ulum, sebelum akhirnya mengajar di berbagai perguruan tinggi di sekitar Solo. Mengajar sebagai dosen ilmu syariah di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta.
Dalam kehidupan akademis sempat diamanahi posisi rektor di Universitas Islam Surakarta (UNIS) pada tahun 1990 hingga 1997. Aktivitas dalam bidang pendidikan Islam dijadikan tempat pengabdian dan ladang ibadah.
Lurah di Pondok Pesantren Jamsaren
Kemasyhuran Jamsaren sebagai pondok pesantren tertua di Jawa barangkali tidak terbantahkan. Pada tahun 1750, Pakunuwono IV mendirikan surau kecil, selanjutnya dinamakan Pondok Pesantren Jamsaren.
Peranan lembaga tradisional ini diharapkan sebagai tempat belajar ilmu agama oleh penduduk Surakarta. Selanjutnya, Pakubuwono IV mendatangkan tokoh agama, KH. Jamsari (Banyumas) dan KH. Hasan (Gabusan), sebelum vakum selama 50 tahun akibat kebrutalan (operasi) tentara Belanda.
Pasca peristiwa operasi itu, Pondok Pesantren Jamsaren dihidupkan kembali oleh KH. Idris dari Klaten. Dengan bantuan Pakubuwono X, pesantren diperluas dan dilengkapi bangunan madrasah yang dinamakan Mambaul Ulum Surakarta.
Santri yang datang tidak hanya dari Surakarta. Santri daerah lain mulai banyak berdatangan, ada yang dari Tegal, Semarang, Banten, Magelang, Salatiga, Jombang, dan Mojokerto. Para santri mendalami karya kitab-kitab klasik dengan metode sorogan dan blandongan.
Hingga pada tahun 1923 setelah wafatnya KH. Idris, Jamsaren diteruskan oleh anaknya bernama KH. Abu 'Amar. Pola mewariskan inilah yang menyebabkan KH. Ali Darokah tampil sebagai pengasuh pondok setelah ayahnya KH. Abu 'Amar wafat (1965).
Kiprahnya di berbagai tempat tidak membuat KH. Ali surut langkah. Transformasi pesantren dengan pemikiran keislaman yan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

