Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Achyat Chalimi
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Achyat Chalimi

lahir 1918 M · 21.118 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi KH. Achyat Chalimi Ulama Nahdlatul Ulama Mojokerto Jawa Timur

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Achyat Chalimi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Mendirikan Laskar Hizbullah
  7. Mendirikan Yayasan
  8. Mendirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA)
  9. Mendirikan Sarikat Tani Islam Indonesia (STII)
  10. Mendirikan Rumah Sakit
  11. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

KH. Achyat Chalimi adalah putra dari pasangan suami istri H. Abd. Halim dan Hj. Marfu’ah binti Ali. Beliau lahir pada tahun 1918 di Mojokerto.

Ayahanda KH. Achyat Chalimi, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga. KH. Ahyat Chalimi kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakdenya yang bernama H. Thohir.

Ibunda KH. Achyat Chalimi kemudian menyusul suaminya. Ibudannya meninggal pada tahun 1938, ketika KH. Ahyat memasuki usia 17 tahun.

Wafat

KH. Achyat Chalimi wafat pada tahun 1991. Beliau meninggalkan Pesantren, Sekolah, Yayasan Yatim Piatu, Rumah Sakit, dan lain lain. Dan yang tidak kalah penting, meninggalkan santri santri yang kelak menjadi tokoh yang berpengaruh di tengah masyarakat khususnya Mojokerto dan sekitarnya.

Keluarga

Pada tahun 1940, KH. Achyat Chalimi melepaskan masa lajangnya dengan menikahi Badriyah, putri dari KH. Moh Hisyam pengasuh Pondok Pesantren dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno.

Pendidikan

Masa kecil KH. Achyat Chalimi beserta kakak kandungnya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melanjutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau KH. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, KH. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

Selama belajar di Tebuireng, KH. Achyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan.

Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghidangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela.

KH. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman sekamar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat”.

Pada tahun 1938, KH. A

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+