Prof. Dr. KH. Abd. A'la Basyir lahir pada 5 September 1957 di Sumenep. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ah. Basyir dengan Nyai Hj. Umamah Makkiyah Pengasuh di Pondok Annuqayah Latee, Guluk Guluk, Semenep.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Peranan di Nahdlatul Ulama
3.2 Kiprah
4. Karier
5. Karya
6. Chart Sisilah Beliau
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Prof. Dr. KH. Abd. A'la Basyir lahir pada 5 September 1957 di Sumenep. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ah. Basyir dengan Nyai Hj. Umamah Makkiyah Pengasuh di Pondok Annuqayah Latee, Guluk Guluk, Semenep.
1.2 Riwayat Keluarga
Prof. Dr. KH. Abd. A'la Basyir menikah dengan Nyai Hj. Nihayatus Sa'adah. Buah dari pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai 4 anak, yakni Istizadah Iffati, Ahmad Dzaki Nuhais Asy-Syarqawi, Zakhrofani Ghina En-Nafs, dan Zakana Istigharuna El-Dayyan.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Abd. A'la Basyir memulai pendidikannya dengan belajar di Madrasah Ibtidaiyah Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep dan melanjutkan pendidikan menengah di Madrasah Mu’allimin Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep. Di Pondok Annuqayah ini, Kyai Abd. A'la menempuh pendidikan keseluruhannya, pada periode 1966-1978. Ketika di PP. Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, Kyai Abd A'la berguru kepada ayahnya sendiri, dan kepada kyai-kyai lain di Annuqayah.
Setelah selesai dari Muallimin Pondok Annuqayah selama 6 tahun, Kyai Abd. A'la melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ketika di Pondok Tebuireng, Kyai Abd. A'la banyak "ngalap" berkah kepada kyai-kyai di Jombang dan mengunjungi makam-makam penting pendiri NU.
Saat di Tebuireng ini, Kyai Abd. A'la menempati Kamar Al-Djihad, No. 8, seangkatan dengan santri Bangkalan, di antaranya adalah Bpk. Rofiq Syafii. Kyai Abd. A'la menempuh pendidikan di Tebuireng antara periode 1978-1979, yang mana masa ini disebutnya sebagai upaya ngalap berkah.
Selain itu, ketika di Tebuireng beliau juga mengaji berbagai kitab penting, dan di antaranya adalah kitab fiqih, Fathul Wahhab kepada KH. Adlan Aly, yang di kemudian hari menjadi Ketua JATMAN juga ngaji kitab kumpulan Hadis, Riyadus Shalihin kepada KH. Ishomuddin dan disempurnakan pula ngaji kitab Hadis babon, Shahih Muslim, kepada
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

