Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Siradjul Millah-Waddin, Penggagas Majelis Keluarga Sidogiri
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Siradjul Millah-Waddin, Penggagas Majelis Keluarga Sidogiri

1927 – 1978 M · 3.976 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi KH. Siradjul Millah-Waddin, Penggagas Majelis Keluarga Sidogiri

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Hijrah ke Desa Beujeng
3.2  Mendirikan Madrasah Pertama di Beujeng
3.3  Mendirikan Pesantren
3.4  Penggagas Majelis Keluarga Sidogiri

4.    Teladan
4.1  Sufi yang Pendiam dan Tawadhu

5.    Pesan-Pesan
6.    Referensi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Siradjul Millah-Waddin lahir di Gondang Winongan Pasuruan sekitar tahun 1346 H atau tahun 1925 M. Beliau putra pertama dari pasangan KH. Nawawie bin Noerhasan dengan Nyai Asyfi’ah (Nyai Gondang).

Saudara seayah-seibu beliau adalah KA. Sa’doellah dan Kyai Hasani, beliau juga punya adik perempuan yang wafat sekitar di usia 14 tahun. Semasa kecil beliau diasuh oleh bibinya yang bernama Nyai Maryam, kakak dari Nyai Asyfi’ah. Menjelang remaja, tepatnya setelah dikhitan, beliau pindah ke Sidogiri beserta ibu dan saudara-saudaranya, tak ketinggalan juga Nyai Maryam, selaku  pengasuhnya. 

1.2 Riwayat Keluarga
Kyai Siradj menikah sekitar tahun 1955-1956 M dengan Nyai Hj. Futiyah binti Sya’roni bin Abdaru bin Ahmad Sayidina bin Abdullah, yang masih keturunan Sunan Drajat. Nyai Hj. Futiyah adalah seorang gadis dari Desa Beujeng, Beji Pasuruan.

Nasab Kyai Siradj dan Nyai Futiyah bertemu pada nenek moyang yang ada di Batuampar Timur Madura. Saat pernikahan itu, Kyai Siradj berusia sekitar 35 tahun, sedangkan istrinya kira-kira 13 tahun. 

Ada kisah menarik sebelum pernikahan ini. Ketika itu, Laskar Hizbullah bermarkas di Beujeng. Kebetulan saat itu putri KH. Sya’roni (calon istri Kyai Siradj) sakit parah. Lalu ada yang memberitahu kepada Kyai Sya’roni, bahwa salah seorang putra KH. Nawawie Sidogiri yang bernama KA. Sa’doellah menjadi Pimpinan Hizbullah.

Kemudian beliau diberi saran untuk minta berkah kepada putra Kyai Nawawie tersebut, Kyai Sya’roni menyetujui saran itu. Maka dengan izin Allah SWT, putrinya sembuh. Setelah itu Kyai Sa’doellah menyuruh orang untuk menanyakan kepada Kyai Sya’roni, “apakah putrinya sudah ada yang punya? Kalau belum, maka akan saya jadikan kakak ipar saya.” Setelah dijawab, “Tidak ada yang punya”, maka Kyai Sa’doellah menjodohkannya dengan kakaknya, Kyai Siradj. 

Karena perkawinan itu berlangsung pada masa penjajahan, maka setelah menikah dengan putri Kyai Sya’roni Beujeng, Kyai Siradj tidak langsung menetap di sana, tapi masih pulang-pergi Beujeng-Sidogiri. Namun akhirnya beliau menetap di sana. Di Beujeng, beliau adalah seorang Kyai yang kehidupannya sangat bersahaja.

Pernah beliau menjual baju bekas, berdagang jamu bersama Pak Surin (Beujeng) dan Mas Ad (salah seorang saudara Istrinya) dan minyak wangi untuk kebutuhan kehidupannya (ma’isyah) ketika pertama kali berkeluarga.

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+