KH. Muhammad Marwan lahir pada 7 Juli 1937 M/1356 H. di desa Jragung Demak. Beliau merupakan putra dari pasangan Bapak Parmo dan Ibu Srinem.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Masa Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Pengasuh Pesantren
3 Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Marwan lahir pada 7 Juli 1937 di Desa Jragung, Demak, dari pasangan Parmo dan Srinem. Meskipun orang tuanya adalah pedagang biasa, mereka sangat menghormati para Kyai. Setiap kali ada acara di desa yang dihadiri Kyai, mereka selalu berada di baris terdepan sebagai bentuk penghormatan, yang kemudian menjadi berkah bagi putranya.
Pada usia 6 tahun, KH. Muhammad Marwan kehilangan ayahnya dan dibesarkan serta dididik oleh ibunya. Ibunya memberikan perhatian khusus untuk pendidikan agama, dengan harapan putranya kelak menjadi orang alim.
Pendidikan agama pertama beliau ditempuh dengan belajar kepada Syaikh Abdullah Sajad, seorang ulama masyhur yang dikenal karena perjuangannya yang tidak menetap. Di mana pun Syaikh Abdullah Sajad singgah, di situ pula beliau mendirikan masjid, termasuk di Desa Jragung tempat kelahiran KH. Muhammad Marwan.
1.2 Riwayat Keluarga
Ketika masih muda muda menuntut ilmu di pesantren KH. Ma'shum Ali Seblak, bakatnya dalam berbagai disiplin ilmu agama sangat mencolok, sehingga menarik perhatian KH. Ma’shum Ali untuk menjadikannya menantu.
Setelah kesepakatan dicapai antara KH. Muhammad Marwan Muda dan keluarganya, pernikahan dengan Hj. Abidah (9 tahun) pun dilangsungkan.
Meskipun telah menikah, beliau tetap melanjutkan tugasnya sebagai pengajar di Pesantren Tebuireng pada siang hari dan pesantren Seblak pada malam hari. Baru kemudian, mereka resmi hidup sebagai pasangan suami-istri ketika Hj. Abidah mencapai usia 11 tahun.
1.3 Wafat
Ketika naik haji untuk keempat kalinya pada tahun 2002, KH. Muhammad Marwan Jragung memberi wasiat kepada santri dan keluarganya, khususnya kepada menantunya, KH. A. Asrori Lathif Al-Hafidh. Beliau berpesan bahwa jika suatu saat beliau tidak mampu lagi, maka Asrori yang akan meneruskan pengajian thoriqoh.
KH. Muhammad Marwan dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama namun tetap tawakkal kepada Allah SWT. Pada hari Kamis, 17 Mei 2002, beliau mengkhatamkan Al-Qur'an meski dalam keadaan berbaring. Malamnya, sekitar pukul 02.00 WIB, beliau berwasiat kepada santrinya untuk tetap istiqomah di pondok dan melanjutkan setoran Al-Qur’an kepada Asrori.
Ketika kondisinya semakin kritis, dokter memutuskan untuk menempatkannya di ruang intensif. Pada Sabtu, 19 Mei 2002, sekitar pukul 10.00 WIB, beliau meminta maaf kepada semua santri karena tidak bisa mengajar lagi. Pada Ahad, kondisinya semakin menurun, dan tepat ba'da Maghrib malam Senin, 20 Mei 2002, di RSI Roemani Semarang, beliau berwasiat kepada santri terdekatnya, Syarqawi AH, agar tidak meninggalkannya karena sekitar jam 9 malam beliau akan pergi. Pada pukul 20.25 WIB, beliau menghembuskan nafas terakhir dengan membaca kalimat istighfar.
Pada Senin, 21 Mei 2002, Desa Jragung dipenuhi oleh lautan manusia yang datang untuk berta'ziah dan memberikan penghormatan kepada Mbah KH. Muhammad Marwan.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

