Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mahfudz Siddiq
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mahfudz Siddiq

1907 – 1944 M · 28.707 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Mahfudz Siddiq uLama NU Jember

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Mahfudz Siddiq

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Karier di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Mahfudz Shiddiq lahir pada hari Kamis Pon, tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1325 H/ 1907 M di Jember. Beliau merupakan putra sulung dari pasangan KH. Siddiq, seorang penulis Nadzam Kitab Safinah dengan lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf. Selain itu, beliau merupakan kakak kandung dari KH. Achmad Siddiq (1926-1991).

Wafat

KH. Mahfudz Shiddiq wafat di Jember, tanggal 1 Januari 1944 M dan dimakamkan di pemakaman keluarga Turbah, Condo, Jember.

Pendidikan

KH. Mahfudz Shiddiq memulai pendidikannya dengan diasuh langsung oleh ayahnya. Ayah beliau adalah sosok yang tegas dan sangat ketat, terutama dalam hal sholat berjama’ah. Beliau dikenal berwatak sabar, tenang, dan sangat cerdas.. Beliau juga Kyai yang suka berpenampilan necis dan rapi. Wawasan berfikirnya amat luas dan modern, baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.

Setalah dewasa, KH. Mahfudz Siddiq melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, di bawah pengajaran KH. Hasyim Asy’ari.

Karier di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Mahfudz Siddiq mula-mula terpilih sebagai Presiden (Ketua) Tanfidziyah HBNO (kini PBNU) pada Muktamar NU ke-12 di Malang, tahun 1937. Kemudian berturut-turut beliau terpilih lagi menduduki jabatan yang sama pada Muktamar ke-13 di Menes, Pandeglang (1938), Muktamar ke-14 di Magelang (1939), dan Muktamar ke-15 di Surabaya (1940). Muktamar merupakan institusi tertinggi dari organisasi berlambang jagat dan tali itu. Berbeda dengan sekarang, sebelum masa kemerdekaan muktamar NU diselenggarakan setiap tahun.

KH. Mahfudz Siddiq sendiri pada mulanya menolak jabatan sebagai Ketua Tanfidziyah HBNO. Beliau tetap menolak, sekalipun berkali-kali sidang menetapkannya sebagai calon ketua. “Dari segi pengalaman dan pengetahuan tentang NU, saya masih belum apa-apa dibanding kiai lain yang lebih senior. Saya keberatan dengan jabatan itu,” tandasnya di depan muktamar.

Adalah KH. Hasyim Asy’ari, satu-satunya tokoh yang berhasil meluluhkan hati KH. Mahfudz Siddiq agar bersedia menerima amanat itu. “Kowe kudu gelem, Fudz! (Kamu harus bersedia, Fudz!),” kata KH. Hasyim Asy’ari, setengah memaksa.

Sebagai santri, tentu saja KH. Mahfudz tidak bisa berkutik lagi menghadapi permintaan sang guru. Dengan berat hati, amanat muktamar itu lalu diterima. Lalu terjadilah duet harmonis antara KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Mahfudz Siddiq yang tak ubahnya seperti duet kiai dengan santrinya.

Sekalipun masih terlalu muda ketika menerima amanat untuk memimpin NU, tak ada masalah bagi KH. Mahfudz dalam mengelola organisasi besar itu. Sebelumnya, beliau sudah terlibat dalam merintis pembentukan organisasi pemuda di lingkungan NU, yaitu Ansor. Beliau letakkan dasar-dasar organisasi yang kuat dan sistem komunikasi yang baik di dalam NU. Selain itu, beliau menerapkan dan memperlakukan kehidupan organisasi secara profesional.

Jika dibanding dengan keadaan sekarang, lebih-lebih untuk ukuran waktu itu, yang dilakukan KH. Mahfudz Siddiq dalam berorganisa

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+