KH. Abdul Mujib Abbas lahir pada hari Jumat tanggal 1 Syawal 1352 H atau bertepatan pada 10 Oktober 1932 M di Buduran Sidoarjo
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Karya-karya
5. Referensi
6. Chart Silsilah Sanad
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdul Mujib Abbas lahir pada hari Jum'at tanggal 1 Syawal 1352 H atau bertepatan pada 10 Oktober 1932 M di Buduran Sidoarjo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Moh. Abbas bin Moh. Khozin bin Khoiruddin bin Ghozali bin R. Musthofa (Mbah Jarot), dengan Nyai Khodijah, putri dari KH. Mas Ali bin KH. Wahab Tawangsari Sepanjang Sidoarjo.
Jika dilihat lebih lanjut Nyai Khodijah adalah saudara sepupu dari KH. Wahab Chasbullah (salah satu pendiri NU), sebab ibundanya yang bernama Nyai Lathifah adalah adik dari KH. Mas Ali. KH. Abdul Mujib Abbas merupakan anak keenam dari delapan bersaudara, yakni Nyai Aisyah, Nyai Nuroniyyah, Nyai Fatimah, KH. Abdul Wahid, Nyai Hanifah, KH. Abdul Mujib, Nyai Nur Maslahah (meninggal umur 16 tahun), Nyai Nur Azizah (meninggal umur 4 tahun).
1.2 Riwayat Keluarga
Setelah sekian lama melakukan pengembaraan dalam mencari ilmu dari berbagai pesantren, KH. Abdul Mujib menginjak pada fase selanjutnya dalam kehidupan, yakni fase pernikahan. Dengan kealiman, kepandaian serta kebaikan budi pekerti beliau, tidak heran bila banyak orang yang terpikat pada sosok KH. Abdul Mujib untuk dijadikan menantu. Salah satunya adalah lamaran dari saudagar kaya raya dari daerah Gondang Legi Malang.
Sekilas tawaran ini menggiurkan apalagi bagi sosok KH. Abdul Mujib yang sejatinya bukan turunan Kyai yang kaya raya sekalipun juga tidak terlalu miskin. Akan tetapi lamaran tersebut tidak diterima oleh KH. Moh. Abbas ayah beliau. Karena KH. Moh. Abbas tidak tergiur dengan tawaran untuk menikahkan putra beliau dengan putri saudagar kaya raya. Pada akhirnya pilihan KH. Abdul Mujib jatuh hati pada sosok seorang putri dari Pasuruan yang bernama Nyai Mudawwamah yang dikenal sebagai Hafidhah (penghafal Al-Qur'an). Dari pernikahan tersebut KH. Abdul Mujib dan Nyai Mudawwawamah dikaruniai dua belas putra-putri, di antaranya Abdul Salam, Abdul Mu’id, Nur Khodijah, Maimunah, Abdul Mughni, Nur Hinda, Farihah, Muhammad Ubaidillah, Abdul Jalil, Muhammad Ali, Hj Naila, dan Hj. Atiqoh.
1.3 Wafat
Semua perjalanan hidup seseorang pasti akan mengalami sebuah fase yang disebut dengan kematian. Kenyataan ini sebenarnya telah ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan dan kematian adalah keniscayaan bagi semua makhluk hidup. Hanya saja kematian seseorang terjadi karena beberapa sebab, salah satunya adalah karena sebuah penyakit.
Akan tetapi kesemuanya tidak bisa dilepaskan dari kehendak dan kepastian Allah. Sebelum meninggal, KH. Abdul Mujib telah mengidap penyakit diabetes meskipun tidak semua orang mengetahui kondisi beliau tersebut. KH. Abdul Mujib tidak pernah mengeluhkan penyakitnya tersebut baik dihadapan keluarga maupun santri beliau.
Beliau menjalani aktifitas yang begitu padat di pondok pesantren dengan tegar tanpa memperlihatkan rasa sakitnya. Seiring dengan perjalanan waktu penyakit diabetes semakin menggerogoti tubuh KH. Abdul Muji
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

