KH. M. Basori Alwi Murtadlo Ulama Nahdlatul Ulama Nahdlatul Ulama Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.1 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Pencetus Berdirinya MTQ
4.1 Karier
4.2 Karya
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo adalah putra dari pasangan KH. Alwi Murtadlo dengan Nyai Riwati, beliau lahir di Singosari, Malang, Jawa Timur pada tanggal 15 April 1927.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Alwi Murtadla menikah dengan Nyai Hj. Afiati. Dari pernikahannya beliau dikaruniai 2 orang putra dan 1 putri, yaitu: H. A. Faried Basori, Hj. Ratna Saidah Basori, dan H. M. Anis Basori (alm.)
Kemudian menikah lagi dan dari pernikahan kedua ini dengan Nyai Hj. Qomariyah Abdul Hamid, beliau dikaruniai 5 putra dan 3 putri, yaitu: H. M. Anas Basori, Hj. Hanik Lutfiati Basori (alm), Hj. Ummu Salamah Basori, H. M. Rif’at Basori, H. M. Nu’man Basori, H. Luthfi Bashori, H. Ahmad Faiz Basori, dan Hj. Kholidah Basori.
1.3 Wafat
KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo wafat pada umur 93 tahun atau lebih tepatnya pada hari Senin 23 Maret 2020. Beliau dikabarkan meninggal dunia pukul 15.30 karena penyakit jantung koroner.
Jenazah beliau dishalatkan di Masjid Hizbullah Jl. Masjid Singosari dan dimakamkan di kompleks pemakaman Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ), pada hari Selasa 24 Maret 2020 pukul 12.00 WIB, setelah shalat Dzuhur.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Masa Menuntut Ilmu
Semasa kecil, KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo belajar Al-Qur’an langsung di bawah bimbingan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikanya kepada KH. Muhith, seorang penghafal Al-Qur’an dari Pesantren Sidogiri (Pasuruan). Setelah itu, beliau melanjutkan lagi dengan belajar kepada kakak kandung beliau, yakni KH. Abdus Salam.
Tidak cukup kepada kakaknya, beliau juga belajar kepada Kyai Yasin Thoyyib (Singosari), Kyai Dasuqi (Singosari), dan Kyai Abdul Rosyid (Palembang). Pada tahun 1946-1949, beliau kembali melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Madrasah Aliyah dan mondok di Pesantren Salafiyah Solo.
Di Solo, beliau belajar Al-Qur’an langsung kepada Sayyid Abdur Rahman bin Syihab Al-Habsyi. Selain di Solo beliau juga pernah belajar kepada guru-guru dari berbagai daerah juga, di antaranya, Syekh Ismail dari Banda Aceh, dan Kyai Abdullah bin Nuh dari Bogor.
Kecintaannya untuk memperdalam Al-Qur’an tidak dibatasi oleh usianya, karena ketika sudah berkeluarga dan tinggal di Gresik, beliau masih menyempatkan diri untuk mengaji kepada KH. Abdul Karim.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

