KH. R. Ma’mun Nawawi memulai pendidikannya dengan belajar di pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Bandung.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.4 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Masa Penjajahan
4. Karya-Karya
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Raden Ma’mun Nawawi lahir pada hari Kamis, bulan Jumadil Akhir 1339 H/1912 M, beliau merupakan putra dari pasangan KH. Raden Anwar (seorang pedagang sekaligus guru mengaji) dengan ibu Siti Romlah, Saudara-saudara KH. Raden Ma;mun Nawawi antara lain Rukiyah, Endeh, H. Yahya, Siti Iyok, Endang, Dimiyati, dan Abdul Salim.
1.2 Wafat
KH. R. Ma’mun Nawawi wafat pada usia 63 tahun, atau pada malam Jumat, 26 Muharram 1395 H/7 Februari 1975 M pukul 01.15 WIB. Beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman di sekitar Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. R. Ma’mun Nawawi memulai pendidikannya dengan belajar di pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Bandung. Di pesantren tersebut, beliau menempuh waktu 7 tahun. Setelah itu, beliau lanjutkan studinya ke Makkah selama 2 tahun. Selama di Makkah beliau berguru pada lebih dari 13 Muallif (pengarang kitab), di antaranya adalah Al-Muhaddits As-Sayyid Alawi Al-Maliki dan Mama KH. Mukhtar Athorid Al-Bogori.
Sekembalinya dari Makkah, saat itu usianya 24 tahun, beliau melanjutkan studinya atas saran sang ayah. Sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam KH. Raden Anwar, sang ayah yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari, mengutus putranya itu untuk belajar agama lagi di pesantren. Berbagai pesantren pun disambanginya untuk digali ilmunya. Mulai dari Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pesantrennya Syekh Ihsan Jampes Kediri dan lain sebagainya.
Setelah itu, beliau juga belajar lagi ke pesantren yang diasuh Syekh KH. Manshur bin Abdul Hamid Al-Batawi, pengarang kitab Sullam An-Nayirain, di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sullam An-Nayirain kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja. Kemudian, beliau juga belajar ke ulama Betawi lainnya seperti Habib Usman dan Habib Ali Kwitang.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

