KH. Muhammad Mansyur adalah salah seorang ulama betawi dan juga pejuang kemerdekaan Indonesia. Ketika beliau memperjuangkan masyarakat Betawi atas penjajahan yang dilakukan pada masa kolonial. Di samping itu KH. Muhammad Mansyur juga berperan dalam perkembangan keIlmuan, khususnya Ilmu Falak.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-guru
3. Penerus
3.1 Anak-anak
3.2 Murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Perjalanan Menuntut Ilmu
4.2 Perjalanan Dakwah
4.3 Keistimewaan
4.4 Peran Terhadap Kemerdekaan Indonesia
4.5 Karier
4.6 Karya-karya
4.7 Sejarah Masjid Jami AL-Mansyur Jembatan Lima
5. Keteladanan
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Mansyur atau yang kerap disapa dengan panggilan Guru Mansyur lahir pada tahun 1295 H atau bertepatan pada tahun 1878 M, di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta. Beliau merupakan putra KH. Abdul Hamid bin Muhammad Damiri.
Silsilah ayah beliau KH. Imam Abdul Hamid bin Imam Muhammad Damiri bin Imam Habib bin Abdul Mukhit. Nama lain dari Abdul Mukhit adalah Pangeran Tjokrodjojo, Tumenggung Mataram. Karena itu, guru Mansyur diyakini punya trah Mataram dari garis ayah beliau. KH. Muhammad Mansyur juga mempunyai beberapa nama panggilan di antaranya adalah:
1. Guru Mansyur
2. Guru Mansyur Jembatan Lima
3. KH. Muhammad Mansyur Al-Batawie
1.3 Wafat
Wafat pada hari Jumat, 2 Shafar tahun 1387 H atau bertepatan dengan tanggal 12 Mei 1967 Jenazah beliau dimakamkan di halaman Masjid Jembatan Lima.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Sejak kecil KH. Muhammad Mansyur diasuh dan dididik oleh ayahnya KH. Abdul Hamid,
Pada tahun 1894, Guru Mansur berangkat ke Mekkah pada usia 16 tahun bersama ibunya untuk menuntut ilmu. Selama 4 tahun, tinggal di Makkah dan belajar dari beberapa guru terkenal, termasuk Tuan Guru Umar Sumbawa, Guru Mukhtar, Guru Muhyiddin, Syekh Muhammad Hayyath, Sayyid Muhammad Hamid, Syekh Said Yamani, Umar Al-Hadromy, dan Syekh Ali Al-Mukri.
Setelah masa tinggalnya di Makkah, Guru Mansur melakukan perjalanan pulang ke tanah airnya. Perjalanan pulangnya meliputi singgah di Aden, Benggala, Kalkuta, Burma, India, Malaya, dan Singapura. Setelah tiba di kampung halamannya, beliau mulai membantu ayahnya dalam mengajar di Madrasah Kampung Sawah. Pada tahun 1907, beliau mulai mengajar di Jamiatul Khair, Kampung Tenabang. Di sana, mulai mengenal tokoh-tokoh Islam seperti Syekh Ahmad Syurkati dan KH. Ahmad Dahlan, yang juga merupakan anggota Jamiatul Khair.
2.1 Guru-guru
1. KH. Abdul Hamid (Ayahanda KH. Muhammad Mansyur)
2. KH. Mahbub bin Abdul Hamid (Kakak Kandung)
3. KH. Thabrani bin Abdul Mughni (Kakak Misan)
4. H. Mujitaba bin Dahlan (Ulama dari Mester Cornelis )
5. Guru Muhyiddin
6. Syekh Muhammad Hayyath
7. Syekh Sa’id Al-Yamani
8. Syekh Umar Bajunaid Al-Hadrami
9. Syekh Muhamma
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

