KH. Imam Yahya Mahrus lahir pada 01 Agustus 1949, di Pondok Pesantren Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur. Beliau merupakan putra pertama KH. Mahrus Aly dengan Nyai Zainab.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Berkelana Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Menjadi Pengasuh Pesantren
3. Penerus
3.1 Anak-Anak
3.2 Murid-Murid
4. Karier
4.1 Menjadi Ketua Rektor IAIT Kediri
4.2 Menjadi Pengurus RMI Jawa Timur
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Imam Yahya Mahrus lahir pada tanggal 01 Agustus 1949, di Pondok Pesantren Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur. Beliau merupakan putra pertama dari KH. Mahrus Aly dengan Nyai Zainab.
KH. Mahrus Aly memberi nama Imam Yahya, diambil dari nama pemimpin Yaman tahun 40-an. Tokoh tersebut berjuluk Amirul Muslimin, seorang ahli politik, strategi dan menguasai ilmu alat (Nahwu-Shorof). Tentu, harapannya kelak Imam Yahya menjadi sosok seperti Imam Yahya, Sang Amirul Muslimin.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Imam Yahya menikah dengan Ning Zakiyah Miskiyah, putri KH. Muhammad Usman Al-Ishaqi (Mursyid Thariqoh Al-Qadiriyah wa An-Naqsyabandiyah Surabaya). Beliau menikah ketika masa liburan kuliah pada tahun 1978. Saat itu, KH. Imam Yahya masih dalam tahap belajar di bangku kuliah Universitas Islam Madinah.
Setelah sebulan menikah, Ibu Nyai Zakiyyah ditinggal selama satu tahun oleh Kyai Imam untuk melanjutkan kembali studinya di Madinah. Pada tahun 1979, sang ayah meminta Kyai Imam pulang ke Indonesia setelah sebelumnya terdengar kabar bahwa beliau terkena peluru nyasar di bagian pelipis matanya dari kelompok pemberontak Madinah.
Mulailah Kyai Imam menahkodai rumah tangga dengan Ning Zakiyah di sebuah rumah kecil yang sederhana dengan satu kamar. Tak ada rasa keluh kesal dari keduanya, hingga pernikahan ini melahirkan enam keturunan, 4 anak laki-laki (Gus Reza, Gus Iing, Gus Nabil, Gus Izzul) dan 2 anak putri (Ning Etna, Neng Ochi).
KH. Imam Yahya adalah sosok yang disegani oleh keluarga. Beliau terkenal tegas dalam mendidik, walaupun kepada putra-putrinya sendiri. Di balik ketegasannya, Kyai Imam memiliki sifat adil dan bijaksana. Beliau tidak membedakan putra-putrinya dalam segala hal, bahkan sampai urusan uang saku.
1.3 Wafat
Pada tahun 2004, KH. Imam Yahya divonis oleh dokter mengidap diabetes tinggi. Meski demikian, aktivitas selalu dijalani dengan tabah. Hingga awal tahun 2011, kondisi beliau semakin drop dan dilarikan ke RS. Gambiran, Kediri. Saat itu, dokter menyarankan agar Kyai Imam dilarikan ke RS. Graha Amerta, Surabaya. Hasil laporan dokter, beliau terkena kanker paru-paru yang telah menjalar ke saluran pernafasan.
Semenjak itu, beliau sering keluar masuk rumah sakit. Berbagai macam cara pengobatan ditempuh termasuk cara tradisional pengobatan Shin Sei hingga penyakitnya berangsur pulih. Merasa kondisinya
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

