Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Nyai. Hj. Nur Khodijah
✓ Terverifikasi Tim Riset

Nyai. Hj. Nur Khodijah

1897 – 1952 M · 6.112 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Nyai Hj. Nur Khodijah lahir pada 23 Februari tahun 1897 di Tambakberas tepatnya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum dari pasangan KH. Hasbullah Said dengan Nyai Lathifah

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Perjalanan Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru
2.3  Mendirikan Pondok Pesantren

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Karier

4.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Nyai Nur Khodijah lahir pada tanggal 23 Februari tahun 1897 di Tambakberas tepatnya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum dari pasangan KH. Hasbullah Said dengan Nyai Latifah.

1.2 Wafat
Bu Nyai Hj. Nur Khodijah wafat pada tanggal 17 Juli 1952. Jenazah beliau dimakamkan di Komplek Pesantren Denanyar (Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang).

1.3 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1912, beliau pergi ke Makkah bersama ibundanya untuk menunaikan ibadah haji. Di Makkah inilah beliau bertemu KH. Bisri Syansuri, karena dijodohkan kakaknya, KH. Wahab Chasbullah. Kemudian keduanya melangsungkan pernikahan dan menetap di Makkah lebih lama untuk menuntut ilmu. Pernikahannya dengan KH. Bisri membuahkan dua putra dan empat putri, yaitu:
1. KH. Ahmad Bisri
2. Hj. Muasshomah
3. Nyai Sholichah
4. Nyai Musyarafah
5. KH. Aziz Bisri
6. KH.Shohib Bisri

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Perjalanan Menuntut Ilmu

Sejak kecil beliau dibimbing oleh KH. Hasbullah Said, sang ayah dalam ilmu agama. Di Makkah, Nyai Hj. Nur Khodijah belajar mengaji kepada seorang Syaikh di Arab.

2.2 Guru-Guru
1. KH. Hasbullah

2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
Nyai Hj. Nur Khodijah mulai mendirikan pesantren putri bersama sang suami KH. Bisri Syansuri. Pasangan suami istri ini mendirikan Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang pada tahun 1917. Sepuluh tahun kemudian berdiri pesantren khusus putri di belakang kediaman Kyai Bisri.

Awal pendirian pesantren putri bukan hal yang mudah. Bahkan sosok tokoh sebesar KH. M. Hasyim Asy'ari awalnya kurang setuju. Namun, melihat antusias para perempuan untuk belajar, tekad bulat Nyai Hj. Nur Khodijah tetap tak berubah. KH. M. Hasyim Asy'ari lalu datang sendiri mengamati proses belajarnya dan akhirnya setuju. Hubungan KH. Bisri dengan Kyai Hasyim adalah guru dan murid. Kyai Bisri pernah belajar di Pesantren Tebuireng di bawah asuhan KH. M. Hasyim Asy'ari bersama KH. Wahab Chasbullah yang juga kakak kandung Nyai Nur Khodijah.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier

Nyai Hj. Nur Khodijah kembali ke tanah air bersama suaminya pada 1914 ketika hamil anak pertama, setelah hampir dua tahun menetap di kota itu. Pada 1917, beliau diberikan sebidang tanah dari ayah Nyai Hj. Nur Khodijah dengan KH. Bisri Syansuri, merintis pesantren baru di Kota Jombang. Nyai Nur Khodijah menjadi pengasuh Pesantren Putri Mambaul Mambaul Ma'arif Denanyar.

Pondok Pesantren Putri Mambaul Mambaul Ma'arif Denanyar merupakan pondok pesantren pertama di Jawa yang menyelenggarakan pendidikan untuk perempuan. Pada awalnya hanya dibuka empat kelas untuk perempuan, namun sambutan dari masyarakat tidak terlalu antusias. Malah sempat ada kritikan karena p

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+