Biografi Nyai Hj. Abidah Ma’shum, Hakim Perempuan Pertama di Indonesia
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi:
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
3.2 Memulai Kiprah untuk Negeri
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
Nyai Hj. Abidah Ma’shum adalah tokoh perempuan di Indonesia yang sangat besar kiprah serta jasanya bagi dunia Pesantren dan Bangsa. Tak sedikit kiprah yang ditorehkannya
1.1 Lahir
Nyai Abidah merupakan putri pertama dari pasangan KH. Ma’shum Ali dan Nyai Khairiyah Hasyim. Adapun Nyai Khairiyah dilahirkan pada tahun 1924 M. dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Nafiqoh. Beliau adalah putri pertama dari 10 bersaudara.
Sedangkan KH. Ma’shum Ali adalah salah seorang santri kesayangan Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari. Berkat kepintarannya yang luar biasa, beliau dinikahkan oleh putri pertama beliau, yakni Nyai Khairiyah Hasyim.
1.2 Riwayat Keluarga
Nyai Hj. Abidah Ma’shum pada saat itu berumur (9 tahun) menikah dengah KH. Mahfudz Anwar (25 tahun) Paculgowang.
1.3 Wafat
Sekitar tahun 2006 Nyai Hj. Abidah Ma’shum yang kala itu sangat merindukan Ka’bah memutuskan pergi ke tanah suci. Beliau diantarkan oleh putra-putranya untuk memenuhi keinginan tersebut. Salah satu yang mengantarkan adalah KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) yang saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng.
Tatkala beliau sedang melaksanakan tawaf ifadah, Nyai Hj. Abidah Ma’shum mengembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di maqbarah Syaraya’, sekira 30 menit perjalanan menggunakan mobil arah selatan dari pusat Kota Mekah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal namun dengan belajar langsung di Pesantren dengan ayah (KH. Ma'shum Ali), Ibu (Nyai Khairiyah), kakek (KH. Hasyim Asy’ari) dan pamannya (KH. Wahid Hasyim) merupakan guru- guru panutan yang telah mendidiknya.
2.2 Guru-guru
- KH. Ma'shum Ali,
- Nyai Hj. Khairiyah,
- KH. Hasyim Asy’ari,
- KH. Wahid Hasyim.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Semasa hidup, Nyai Abidah Ma’shum tumbuh disertai dengan keistimewaan sehingga dikenal sebagai “Ibu Kartini dari Jombang”. Sayangnya julukan itu kurang akrab di kalangan masyarakat Indonesia. Sebutan itu baru mulai dikenal secara umum pasca diterbitkannya buku berjudul “Women from Traditional Islamic Educational Institutions in Indonesia” sebuah karya dari penulis asal Universitas Amsterdam, Eka Srimulyani, yang menyebut Nyai Abidah sebagai “Kartini Indonesia dari Jombang”.
Julukan itu disematkan, karena kiprah Nyai Hj. Abidah Ma’shum baik menjelang maupun di masa awal kemerdekaan Indonesia. Kiprah itu antara lain dengan menjadi pemimpin
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

