Nama lengkapnya adalah Muhammad Muhibbi bin Hamzawi, lahir di desa Kajen – Margoyoso Pati. pada tanggal 2 Februari 1938, dari pasangan H Hamzawie Amin dan Hj Fathimah Sukarti.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Kepala KUA
3.2 Mendirikan Pesantren
4. Karya-Karya
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Muhibbin bin Hamzawie, lahir pada tanggal 2 Februari 1938 di Desa Kajen, Margoyoso, Pati. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Hamzawie Amin dan Hj Fathimah Sukarti.
Beliau adalah anak sulung dari tiga bersaudara, dua saudara beliau yaitu Hj. Musti’ah Djayusman dan Hj. Musyarofah mundir beliau berasal dari keluarga orang biasa yang hidup prihatin di masa-masa kritis sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia, di mana banyak para tokoh masyarakat yang dijajah oleh Belanda.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. M. Muhibbi Hamzawie menikah dengan Nyai Hj. Nihayah putri KH. Baedlowi Sirodj pada tanggal 15 September 1967 M. Dari pernikahannya, beliau dikruniai tujuh anak, yakni Nashihatul Fathiyah, Qudwatun Niswah, Muhammad Amaruddin Shuheb, Muhammad Ulil Albab, Zainul Milal Bizawie, Eva Romdlonah, dan Ahmad Khoirul Muntaha.
1.3 Wafat
KH. M. Muhibbi Hamzawie wafat pada hari Kamis Wage, 3 Maret 2005/21 Muharram 1426 dalam keadaan berbaring miring menghadap kiblat dengan tenang dan damai. Semoga amal, ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak masa kecil, beliau sangat rajin belajar ilmu agama meskipun membutuhkan perjalanan yang sangat sulit dan materi yang rumit. Di masa mudanya, Kyai Muhibbi Hamzawie menunjukan berbagai kemahirannya dalam ilmu-ilmu keagamaan terutama ilmu falak, ilmu faroidh, dan ilmu alat lainnya.
Berkat kemahirannya inilah, di usia mudanya beliau sudah diberi tanggung jawab beberapa kyai untuk menjadi pengajar. Meskipun orang tuanya kurang mampu, namun tekad beliau untuk terus melanjutkan menunut ilmu ke-pesantren begitu kuat.
Beruntung terdapat beberapa kerabat yang mau membantunya untuk mengejar cita-citanya tersebut. Bersama beberapa temannya, termasuk KH. MA. Sahal Mahfudz, KH. Moh. Ma’mun Muzayyin, dan lain-lain. Beliau menuntut ilmu di Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang kepada KH. Zubair Dahlan. Beliau juga selalu menambah pengetahuannya dengan cara mencari guru-guru lain di tempat lain pula.
Beliau juga pernah berjalan kaki setiap hari untuk untuk berguru di daerah terpencil yang jauh dari Pesantren Sarang hanya sekedar untuk mempelajari kitab yang dianggap sul
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

