Sudah bukan asing lagi, bila Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) itu tempatnya orang yang ingin menghafalkan Al-Qur’an. Dan sebagai pelengkapnya, KH. Mufid menyarankan para anak didiknya untuk membaca shalawat dala’ilul khoirot minimal seminggu sekali. Istilahnya beliau, ”Al-Qur’an di tangan kanan dan shalawat di tangan kiri”.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi:
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
4. Teladan
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mufid Mas’ud merupakan keturunan ke-12 dari Sunan Pandanaran yang lahir pada tanggal 26 Januari 1927 di Kampung Sondakan, Kotamadya Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Beliau merupakan putra ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahanda beliau bernama KH. Ali Mas’ud yang kini makamnya berada di kompleks Makam Golo Paseban Bayat, Klaten.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Mufid menikah dengan Nyai Hj. Jauharoh, putri KH. M. Munawwir (pendiri dan pengasuh Pesantren Krapyak). Sejak saat itu, KH. Mufid termasuk salah satu pengasuh Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. dari pernikahannya, beliau dikaruniai 10 anak yakni 2 putra dan 8 putri.
1.3 Wafat
Pada tanggal 19 Maret 2007 seolah menjadi hari-hari terakhir KH. Mufid. Saat itu, seusai pulang dari Jawa Tengah, KH. Mufid merasakan sakit pada tulang bagian belakang dan setelah itu, sebagian besar waktunya beliau gunakan untuk beristirahat. Hingga keesesokan harinya, keadaan seperti itu masih beliau rasakan. Akhirnya, beliau meminta putranya, KH. Mu’tashim Billah untuk membawanya ke Rumah Sakit Harapan Insani (RS. HI) milik Prof. Dr. H. Gunadi, M.Sc yang merupakan teman baik KH. Mufid.
Di sana, di RS. HI, KH. Mufid mendapat perawata khusus dengan penjagaan dan pemantauan selama 24 jam non stop dari direktur RS HI, Dr. Cempaka Tursina, seorang dokter ahli saraf. Menurut dr. Cempaka, KH. Mufid, saat itu hanya mengalami ‘sakit tulang belakang’ yang dalam istilah kedokteran disebut ‘terdapat serabut kecil syaraf di tulang belakang yang terjepit akibat proses pengapuran”.
Gejala ini sangat masuk akal jika dialami oleh KH. Mufid yang sangat sering kelelahan. Sehingga, pada 29 maret beliau dibawa ke Panti Rapih untuk melakukan foto rontgen syaraf, karena saat itu, Panti Rapihlah yang menjadi salah satu dari dua rumah sakit di Yogyakarta yang memiliki alat foto syaraf. Namun, keadaan beliau semakin lama semakin memburuk.
Dan pada hari Jumat, 30 Maret beliau merasakan sedikit sakit pada bagian perut. Atas saran dari RS. HI, baliau harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap, yaitu: Jogja International Hospital (JIH). Di JIH, beliau juga mendapatkan satu hal yang sama dengan yang di RS. HI: perhatian khusus.
Malah, direktur neurologi JIH, Prof. Dr. H. Rusdi Lamsudin, telah meminta seluruh dokter spesialis kenalannya untuk ikut membantu pengobatan Kyai Mufid. Alhamdulillah, selama di JIH, kesehatan Kyai Mufid semakin membaik. Namun, sepertinya takdir berkata lain. Walaupun secara medis keadaan beliau dinilai baik, namun mungkin saat i
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

