KH. Abdurrahman Nawi Ulama Nahdlatul Ulama Betawi Jakarta
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Aktivitas Berdakwah
4. Karya-Karya
5. Karir
6. Chart Silsilah Sanad
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdurrahman Nawi lahir pada bulan Safar, 1354 Hijriah (1933 M). Beliau merupakan putra dari pasangan H. Nawi bin Su'id dan Hj. Ainin binti Rudin.
Sebagaimana lazimnya masyarakat Betawi yang secara turun temurun fanatik memeluk Islam dan kuat menjalankan syari’atnya, KH. Abdurrahman tumbuh dalam lingkungan Kampung Tebet yang juga sarat dengan nilai-nilai dan budaya keagamaan. Ada Mushala yang menjadi tempat berkumpul anak-anak untuk menjalankan Shalat lima waktu dan kegiatan mengaji.
H. Nawi maupun istrinya Hj. ‘Ainin bukan seorang tokoh agama bagi masyarakatnya. Mereka hanyalah seorang yang taat beragama dan senang kepada ulama. Sehari-hari mereka sebagai pedagang nasi ulam di warung Fedok.
Pada waktu-waktu tertentu H. Nawi selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian yang diadakan para ulama dan habib di Kampung Melayu atau di Kwitang. H. Nawi yang pedagang itu mendidik putranya Kyai Abdurrahman untuk rajin Shalat dan mengaji sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.
1.2 Riwayat Keluarga
Menginjak usia sekitar 18 tahun, KH. Abdurrahman menikah dengan Nyai Hasanah binti H. Hasbi. Meskipun menikah di usia muda, tidak meluluhkan semangatnya untuk terus mengaji. Demi mengurus kebutuhan nafkah, ia kemudian berdagang, sehingga hal tersebut menjadi rutinitas kehidupannya kala itu, yakni mengaji dan berdagang.
1.3 Wafat
KH. Abdurrahman Nawi wafat pada pukul 13.35 hari Senin, 18 November 2019 di Rumah Sakit Bakti Yudha Depok, Jawa Barat. Beliau dimakamkan di Pesantren Al-Awwabin, Bedahan, Depok.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. Abdurrahman Nawi memulai pendidikannya dengan belajar mengaji dengan guru yang ada di Tebet, yaitu KH. Mu’alim Ghazali dan KH. Mu’alim Syarbini. Di sini beliau belajar membaca Al-Qur’an serta dasar-dasar aqidah dan praktik ibadah. Ketekunan Kyai Abdurrahman untuk mengaji nampak lebih giat dibanding saudara-saudara dan anak-anak yang lain. Maka H. Nawi terus mendorongnya untuk belajar dan mengaji dan mengingatkannya untuk tidak main-main.
Gurunya yang lain, KH. Muh. Zain bin Sa’id, pernah suatu saat memberinya wejangan, bahwa manusia itu akan dipandang karena tiga hal, yaitu jagoan, kekayaan dan ilmu. Ketika beliau ditanya: “kamu mau jadi apa?”, maka jawabnya spontan “mau menjadi orang berilmu”. Lantas sarannya, untuk itu tida
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

