K.H. Hasbiyallah, ulama yang dikenal luas akan kedalaman ilmunya, yang juga pendiri Lembaga Pendidikan Islam Al-Wathoniyah, Klender, wafat pada tahun 1982.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
2.3 Murid-Murid
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
Tadak ada data yang konkret menjelaskan kapan Kyai Hasbiyallah lahir. Sebagian data mengatakan bahwa Kyai Hasbiyallah lahir pada tahun 1913, namun data yang lain menyebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 1914 Masehi.
1.2 Wafat
Kyai Hasbiyallah wafat pada tanggal 24 Rabiul Akhir 1403 H bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1982 M pada usia sekitar 78 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang berada tepat di depan Masjid Al-Makmur, Klender, Jakarta Timur.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil KH. Hasbiyallah dididik oleh ayahandanya sendiri, Muallim H. Gayar, yang selain seorang pedagang juga ulama terkemuka. Mulai dari membaca Al-Qur’an sampai ilmu-ilmu lain, di antaranya memperdalam ilmu tauhid, fiqih, tafsir, hadis, nahwu, shorof, balaghoh, manthiq, dan sebagainya. Namun karena kesibukan ayahnya sebagai pedagang, Kyai Hasbiyallah kecil dititipkan kepada teman karibnya, seorang ulama besar, Guru Marzuki bin Mirshod.
Guru Gayar berkata kepada temannya itu di hadapan temannya yang lain, Guru Said, “Gua ama Said banyakan ngurusin dagang, ngajarnya kagak kaya elu. Elu aja yang jadi ulama. Kalo kita jadi ulama bertiga, entar kita pada berebutan berkat.” Sebenarnya, ketiga guru itu terkenal dengan kealimannya masing-masing. Itu terlihat dari jumlah santri mereka pada zaman berikutnya menjadi ulama-ulama besar. Mualim H. Gayar dan Guru Marzuki bin Mirshod belajar kepada Sayyid Ustman Banahsan (Habib Ustman Muda) dan Habib Ustman bin Abdillah bin ‘Aqil Bin Yahya Al-Alawi, yang termashur sebagai Mufti Betawi dan memilki banyak karya dan sebagiannya selama puluhan tahun (bahkan lebih dari seratus tahun) hingga sekarang menjadi pegangan para penganut ilmu dan ulama. Selama belajar dengan Guru Marzuki, Hasbiyallah muda banyak mendapat kesempatan bergaul dengan santri-santri lainnya dari Jakarta dan sekitarnya yang kemudian menjadi tokoh ulama yang disegani, di antaranya:
1. KH. Mukhtar Tahbrani (Pendiri Pondok Pesantren An-Nur, Kaliabang Nangka, Bekasi)
2. KH. Noer Ali (Pendiri Pondok Pesantren At-Taqwa, Ujung Harapan, Bekasi)
3. KH. Mughni (mertua KH. Noe Ali)
4. KH. Abdullah Syafi’i (pendiri Perguruan Asy-Syafi’iyah, Bali Matraman)
5. KH. Syarkaman Lenteng Agung
6. KH. Rohaimin Gabus Pabrik
7. KH. Abdul Hadi (pendiri Pondok Pesantren Cipinang Kebembem)
8. KH. Abu Bakar (Tambun)
9. KH. Abdul Hamid (Bekasi)
10. KH. A. Zayadi Muhajir (pendiri Pondok Pesantren Az-Ziyadah, Klender)
11. KH. Ahmad (Pangkalan Jati)
12. KH. Mukhtar (Pondok Bambu)
13. KH. Abdur Rohman Shodri (Bekasi)
14. KH. A. Mursyidi (Klender)
15. KH. Muhammad Nur Bungur Seroja
16. KH. Jurjani Bungur
17. KH. Thohir Rohili (pendiri Pondok Pesantren Athtahiriyah)
18. KH. Mualim Sodri Pisangan
19. Guru Abdurrahman Pulo Kambing
Pada tahun 1934, ketika Kyai Hasbiyallah sedang giat-giatnya memperdalam ilmu ag
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

