Biografi KH. Abu ‘Amar

 
Biografi KH. Abu ‘Amar

Daftar Isi Profil KH. Abu ‘Amar

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Slamet Abdul Kholiq atau yang biasa dipanggil dengan KH. Abu ‘Amar lahir di Desa Pengkol, Kaligawe, Pedan, Klaten.

Beliau merupakan keturunan dari para ulama pejuang. Ayahnya bernama KH. Abdul Ghoniy bin KH. Maulani bin KH. Muqoyyad bin KH. Muqdi (Mukowi) bin KH. Fatuhuddin Makam Gumantar. Kakek buyut KH. Abu ‘Amar, KH. Muqoyyad, merupakan seorang panglima perang yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) dan mendapatkan julukan Singawaspada.

Di daerah Klaten, KH. Muqoyyad berjuang bersama KH. Imam Rozi Singamanjat Tempursari Klaten. KH. Muqoyyad yang memiliki senjata bernama “KH. Royyan” gugur dan dimakamkan di Juwiring.

Wafat

KH. Abu ‘Amar wafat pada Senin 3 Jumadilakhir 1385 H atau  29 Agustus 1965 M. Beliau dimakamkan di pemakaman haji Pajang.

Sepeninggal KH. Abu ‘Amar, estafet pengasuh Pesantren Jamsaren kemudian diserahkan kepada salah satu putranya, KH. Ali Darokah (wafat 1997). Sedangkan salah satu putrinya yang bernama Nyai Hj Umul Kirom diperistri KH. Abdussomad Nirbitan (salah satu tokoh NU Solo, sejak tahun 1930-an).

KH. Abdussomad bersama KH. Imam Ghozali, dan KH. As’ad inilah yang kemudian merintis berdirinya Madrasah Al-Islam Surakarta. Hingga sekarang, Pesantren Jamsaren dan Madrasah Al-Islam, masih tetap eksis keberadaannya dan semoga menjadi jariyah bagi para pendahulunya.

Keluarga

KH. Abu ‘Amar melepas masa lajangnya dengan menikahi salah satu putri KH. Idris. Beliau dikaruniai 3 orang anak (Belum sempat diberi nama, Badrul Ma’ali / M. Hilal, dan Ali Darokah).

Hingga akhir hayatnya, beliau menikahi 3 istri, KH. Abu ‘Amar dikaruniai 21 anak (10 laki-laki dan 11 perempuan).

Pendidikan

Sejak kecil, KH. Abu ‘Amar mendapatkan pendidikan agama dari sang ayah, yang kemudian diperdalam dengan nyantri ke sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Ngadirejo Klaten di hadapan KH. Ahmad. Kemudian, berpindah ke Pesantren Jenengan Sala yang diasuh KH. Fadil Katib Arum.

Setelah itu, beliau nyantri di Kediri Jawa Timur, selanjutnya ia belajar di Pesantren Jamsaren Solo yang kala itu diasuh KH. Muhammad Idris. Kemudian pindah ke Yogyakarta mengaji kepada KH. Mudzakkir (ayah KH. Kahar Mudzakkir) untuk menghafal al-Quran.

Setelah dari Yogyakarta, beliau kembali ke Pesantren Jamsaren, yang masih diasuh KH. Idris, selain itu ia juga bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum yang dipimpin oleh kepala sekolah KH. Bagus Ngarfah.

Sanad Keilmuan Setelah melanglang buana, mengaji ilmu ke berbagai guru, ia pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmunya sekaligus menunaikan ibadah haji. Selama tiga tahun tinggal di Makkah, KH. Abu ‘Amar mengaji kepada Syaikh Nahrowi (ulama asal Banyumas, yang menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah dan Mufti di Haramain).

Ada kemungkinan besar, pergantian nama KH. Abu ‘Amar, yang memiliki nama kecil Slamet Abdul Kholiq, tabarukan dari nama salah satu saudara Syaikh Nahrowi, yang juga bernama Abu ‘Amar. Di Tanah Suci, selain berguru kepada Syaikh Nahrowi, ia juga belajar kepada KH. Mahfud, dan Syekh Abdulkarim Al-Bagistaniy.

Rupanya, setelah belajar di Makkah pun, sekembalinya ke Indonesia, KH. Abu ‘Amar kembali diperintahkan KH. Idris untuk mondok ke Watucongol Muntilan mengaji Bukhari Muslim kepada KH. Abdurrahman bin Abdurrauf, dengan pesan langsung dari Kiai Idris: “aku durung tau ngaji kitab Bukhari Muslim, kowe ngajiya (Aku belum pernah mengaji kitab Bukhari Muslim, maka kajilah (kitab itu) !” Perintah itu kemudian dilaksanakan KH. Abu ‘Amar, dengan mengaji di hadapan KH. Abdurrahman dengan sistem sorogan, yang kemudian diberi ijazah sebagaimana biasa.

Dari beberapa riwayat atau sanad keilmuan yang telah ditempuh, dimulai dari KH. Ahmad Ngadirejo Klaten, Kiai Idris, serta Syekh Nahrowi maka dapat dikatakan Kiai Abu Amar ini selain dikenal sebagai ulama yang alim khususnya di bidang tauhid (Saifuddin, 2013), juga merupakan penganut Thariqah Syadziliyyah.

Mertua KH. Abu ‘Amar, KH. Idris juga dikenal sebagai seorang mursyid Thariqah Syadziliyah yang kemudian diturunkan kemursyidannya kepada KH. Abdul Muid Tempursari Klaten, dilanjutkan kepada Kiai Ma’ruf Mangunwiyata pengasuh Pesantren Jenengan Solo.

Setiap harinya ia bekerja sebagai magang abdi dalem keraton, yang bertugas di Kepatihan untuk membaca al-Qur’an dengan pakaian seragam berkain panjang, berbaju hitam, berkeris, berkepala ikat-ikatan. Sembari mengajar, ia juga berdagang dengan membuka toko kitab yang dipelajarkan di Jamsaren, serta berbagai barang kebutuhan rumah tangga, seng bekas dari pabrik kayu bakar dan nila dari Tebuireng.

Dari relasi ini pula, kemudian dibangun hubungan erat dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, yang berlanjut hingga perjuangan bersama di Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 1923 KH. Muhammad Idris wafat. Maka, pihak keraton meminta KH. Abu ‘Amar untuk menggantikannya sebagai wedana guru. Namun, karena merasa belum sanggup untuk mengembannya, tugas tersebut ditolak oleh KH. Abu ‘Amar.

Posisi wedana guru kemudian diterima oleh KH. Muhsan, dan selanjutnya diserahkan kepada KH. Abdul Jalil (Raden Ngabehi Prajawiyata Al-Jamsari). Namun, beberapa waktu kemudian, pihak keraton kembali memanggil KH. Abu ‘Amar untuk menjadi ulama Masjid Agung dan kemudian tugas tersebut diterimanya.

Beliau kemudian mendapat gelar Raden Ngabehi Darma Tenaya Abdi Dalem Matri, selanjutnya dinaikkan menjadi khatib diberi gelar Raden Ngabehi Darmadiputra Abdi Dalem Panewu.

Perjuangan hidupnya, memang lebih banyak tercurah pada bidang pendidikan. Di samping mengajar bagi penghafal al-Quran di Keraton dan khutbah di Masjid Agung, ia juga bercocok tanam di kebun samping rumah dan di daerah Ngruki. Selain itu, ia juga mengajar tafsir al-Quran di beberapa masjid, dan kitab Ihya Ulumuddin.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Di bidang organisasi kemasyarakatan, KH. Abu ‘Amar ikut menjadi pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Solo. Bersama sejumlah tokoh ulama, antara lain KH. Masyhud Keprabon, KH. Dimyati Al-Karim Mangkunegaran, KH. Siradj Panularan, Kiai Raden Mohammad Adnan dan lain-lain. Pada tahun 1935, Kota Solo bahkan diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar NU kesepuluh.